Ads (728x90)

“Seorang kiai muda mempunyai 30 santri. Mulanya, dia istiqamah mengajar santri-santrinya itu,” ucap Kiai Nawawi tiba-tiba.
“Suatu hari, kiai ini diundang berceramah di kota lain. Terpaksa dia meliburkan pengajian untuk santri-santrinya. Para santri pun bersorak senang karena pengajian diliburkan.”
Kiai Nawawi merapikan baju lalu menyamankan posisi duduknya. Kemudian beliau melanjutkan kisahnya.
“Sekali, dua kali, tiga kali pengajian diliburkan, para santri menyambutnya dengan gembira. Namun, pada kali keempat, ketika sang kiai hendak absen lagi dari mengajar karena harus berceramah di luar kota, tidak ada lagi kegembiraan di wajah mereka. Semua muka masam. Para santri bergegas mengemasi pakaian dan kitab, lalu boyong dari pesantren itu.”
Cerita itu disampaikan (alm) KH Nawawi Abdul Aziz, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul, kepada saya sekira Sembilan tahun lalu. Siapa dan di mana pelakon dalam cerita itu, Kiai Nawawi tidak pernah menggamblangkannya.
Bahkan, sampai beliau wafat pada 24 Desember 2014, pelakon dan lokasi dalam cerita itu tetap tak terucapkan. Bisa jadi itu cerita rekaan sekadar untuk wejangan saya kala itu. Namun, bisa pula memang kisah nyata, yang tak elok disebutkan pelakonnya.
Terlepas dari rekaan atau kenyataan, penuturan Kiai Nawawi tersebut sesungguhnya penuh dengan pesan teramat dalam, terutama tentang istiqamah dan amanah. Tidak hanya untuk satu kalangan tertentu, tetapi setiap orang pastilah memikul amanahnya masing-masing.
Guru atau dosen, misalnya, saat sibuk mengejar sertifikasi atau karier pribadi sehingga melalaikan kewajibannya kepada peserta didik, berarti telah runtuhlah bangunan amanah mereka. Begitu pula pejabat dan anggota dewan, ketika melakukan korupsi, mereka mengkhianati amanah rakyat.
Semua sendi kehidupan memang sarat dengan amanah yang harus ditunaikan secara istiqamah. Pun umur kita adalah amanah dari-Nya. Namun, seringkali kita melalaikan amanah itu karena tergiur godaan duniawi yang melenakan.
Istiqamah menunaikan amanah memang teramat berat. Karenanya para ulama mengatakan, “Satu keistiqamahan lebih baik daripada seribu keramat.”
Rasulullah juga bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad)

*Irham Sya’roni
(Mahasiswa Pascasarjana FIAI UII Yogyakarta, Anggota LTN MWC NU Pandak Bantul)
Tulisan ini diketik ulang dari artikel Mutiara Jumat Kedaulatan Rakyat (5/1/2018).

Post a Comment