Ads (728x90)

Ramadhan telah bertandang. Semua menyambutnya dengan sangat bahagia, memang karena ia sangatlah istimewa. Dari sisi dzatiyyah Ramadhan sendiri yang diistimewakan Allah dibandingkan bulan selainnya, atau dari sisi manusia yang memang benar-benar rindu dengan hawa Ramadhan, walau dengan motif beragam, tapi yang jelas semuanya memancarkan aura bahagia dan itu semua sangat terasa luar biasa.
Allah, ballighnaa fiih, wa bi barkatihii baarik lanaa.
Syari’at puasa Ramadhan yang termaktub dalam QS. Al-Baqoroh ayat 183 redaksi ujungnya adalah لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ . dalam satu versi pemaknaan lafaz tersebut diartikan “agar ketakwaan kalian meningkat”, bukan ‘‘agar kalian menjadi orang bertakwa’’.
Mengapa demikian?. Karena jika menggunakan arti kedua mengandung makna bahwa orang yang kesehariannya melaksanakan sholat, menunaikan zakatnya, dan ibadah semacamnya namun ia tidak berpuasa maka ia bukan termasuk golongan orang bertakwa hingga ia melaksanakan kewajiban puasa tersebut. Artinya, segenap ibadahnya yang lain bukan merupakan haliyah muttaqin hingga ia berpuasa.
Namun jika dimaknai dengan ‘‘agar ketakwaan kalian meningkat’’, mengandung arti bahwa keseluruhan amal ibadah seseorang tersebut sudah menunjukkan haliyah ketaqwaan. Selain itu, dengan melaksanakan kewajiban puasa mengindikasikan tingkat ketakwaan seseorang itu bertambah. Mengapa demikian?. Sebab hakikat puasa adalah menahan, menjaga diri dari segala yang membatalkan secara dzohir dan meredam nafsu dari segala yang dapat mengurangi nilai ibadahnya secara batin.
Penggambaran lain adalah berubahnya jadwal harian, di mana ketika masuk bulan Ramadhan ada dorongan kuat untuk bangun lebih awal guna melaksanakan sahur dan qiyamul lail. Malamnya selepas sholat Isya’ dilanjutkan dengan sholat tarawih, i’tikaf dan segala bentuk ibadah yang mungkin hanya sekali-dua kali dilaksanakan jika di luar Ramadhan.
Nah, di situlah istimewanya, segala ibadah yang mungkin terasa berat menjadi lebih ringan ketika berada dalam naungan Ramadhan. Dengan kualitas dan kuantitas ibadah yang semakin intens tentu menjadikan “poin” seorang hamba di hadapan Allah bertambah. Singkatnya, tingkat ketakwaan seseorang bertambah ketika ia melaksanakan puasa dan ibadah Ramadhan.
Konsistensi ibadah Ramadhan itu hendaknya dijaga. Maka Rasulullah mengajarkan; setelah menggenapkan ibadah Ramadhan sebulan dan merayakan hari kembali menjadi fitri, dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah Syawal 6 hari. Selanjutnya, menjaga semangat Ramadhan itu dengan puasa senin-kamis dalam skala mingguan, dan berpuasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyyah) sebagai rutinitas bulanan, serta amaliyah ibadah lainnya yang menjadi jadwal harian ketika berpuasa.
Pada intinya, puasa merupakan sebuah fase penyucian diri. Karenanya dianjurkan pula untuk saling memohon dan memberi maaf kepada sesama sebelum masuk bulan Ramadhan, walaupun umumnya -yang berlaku saat ini- adat bermaafan itu dilaksakan pada saat hari raya. Namun hal itu juga dibenarkan, karena hakikatnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa, sehingga sangat dianjurkan untuk sesegera mungkin dan sesering mungkin memohon dan memberi maaf, sehingga dosa terhadap sesama menjadi terhapus. Adapun tuntunannya pada saat idul fitri sembari bersilaturrahmi, hendaknya juga saling mendo’akan agar ibadah selama Ramadhan diterima, sebagaimana yang umum diucapkan ketika berlebaran adalah;
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ جَعَلَنَا اللهُ وَ إِيَّاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ
“Semoga Allah menerima ibadahku dan ibadahmu, serta menjadikanku juga dirimu termasuk golongan orang-orang yang kembali menjadi fitrah dan golongan orang-orang yang beruntung”.
Sebuah filosofi hebat tentang puasa
Siapa yang tak tau ulat? Bagaimana bentuknya? Apa pekerjaannya?. Sebagian besar orang tidak suka, baik dari segi fisiknya, maupun perbuatannya yang memakan dedaunan karena itu merugikan; misal bagi para petani. Sampai kapan ia menjadi seperti itu? إلى أجل مسمى , sampai pada batas tertentu hingga ia berada pada fase berpuasa, yaitu menjadi kepompong. Dan ‘‘puasa’’ ulat itu luar biasa, dalam sebuah rumah yang tak berpintu dan tak berjendela, sekian lama. Adakalanya seminggu, dua minggu, hingga batas tertentu ia keluar dari pertapaannya dalam bentuk yang mempesona. Ia menjadi kupu-kupu, indah warnanya, dinanti hadirnya karena membawa manfa’at seperti dalam proses penyerbukan. Ia dikoleksi sebagai pajangan di dinding rumah-rumah. Intinya, semula ia yang dulunya tak disukai setelah melalui fase ‘’berpuasa’’, maka ia bertransformasi menjadi sesuatu yang dicintai. (Nur Dania)

*Disarikan dari ngaji-kuliah Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, MA (Senin, 22 Mei 2017).


Post a Comment