Ads (728x90)

Sedikit Cerita...
Tulisan ini, penulis awali terlebih dahulu dengan cerita tentang sampainya informasi wafatnya Nyai Walidah (tentunya teman-teman yang lain juga memiliki cerita tersendiri), khususnya para alumni, informasi wafatnya mbah nyai ini begitu cepat. Karena pada era teknologi saat ini informasi bisa dengan cepat di peroleh. Pada waktu itu penulis berada di negeri seberang Kuala Lumpur Malaysia, berangkat lewat Entikong-Tebedu 19 Mei 2011 melalui jalur darat (ngebis) perjalanan kurang lebih 6 jam dan sekitar 4 jam kemudian sampai  di air port  Kucing Malaysia Timur (berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat), istirahat sebentar kemudian langsung menuju Kuala Lumpur. Setelah beberapa hari disana (usai berkunjung ke Selangor, Serdang, KLCC dan lain-lain), penulis berkunjung ke tempat teman yang bekerja di sekitar Kuala Lumpur. Kebetulan kartu seluler yang dari rumah masih aktif walaupun tidak bisa digunakan di Malaysia, kartu tersebut penulis tinggal dikontrakan kakak sepupu penulis. Sekitar 3 hari di tempat teman, penulis di kabari Kakak sepupu bahwa HP-nya mendapat SMS beruntun (mungkin sms berantai yang dikirimkan teman-teman seangkatan), karena kakak sepupu penasaran dengan HP yang begitu banyak menerima SMS akhirnya di cek, ternyata isi SMS-nya berita tentang wafatnya mbah Nyai Walidah dan informasi ini disampaikan kepada penulis.
Izin tinggal di Malaysia hanya sekitar 4 hari lagi (visa berkunjung di Malaysia hanya 1 bulan dan 3 hari sebelum tanggal izin berakhir harus sudah keluar dari Malaysia kalau tidak diperpanjang lagi diimigrasi), dengan berbagai pertimbangan penulis memutuskan  untuk pulang (kalau pulang langsung ke Pontianak, kemungkinan besar tidak bisa ta’ziyah ke Jogja karena berbagai faktor, utamanya faktor ekonomi, hehe.) akhirnya dengan modal nekat memutuskan untuk langsung terbang dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta dengan niat ta’ziyah, dan Alhamdulillah 7 hari setelah wafatnya mbah nyai tanggal 14 Juni 2011 penulis sampai di Yogyakarta. Kemudian bersama teman-teman seangkatan, penulis bertahan di Yogyakarta hingga hormat 40 harinya mbah nyai Walidah. Sudah 6 tahun silam dan sekarang mbah Nyai Walidah sudah haul yang ke-6 sekaligus Silaturahmi Nasional (Silatnas), Alhamdulillah dan insyaallah penulis masih bisa hormat di majlis haul.

MENGHADIRI MAJLIS HAUL: Sebagai Ekspresi Kecintaan pada Guru
“Ya Allah berikanlah kami rezeki kecintaan kepada-Mu
dan kecintaan terhadap orang-orang yang berjasa kepadaku
sebagai kecintaan terhadap-Mu”
 (HR. Tirmidzi)

Menghadiri majlis haul para ulama terutama seorang guru (yang telah mendidik dan mendoa’akan yang terbaik buat para santrinya) merupakan salah satu bentuk hormat ta’dzim dan kecintaan kita pada sang guru. Tidak usah merasa malu dan rikuh karena mungkin pada waktu mondok dulu kurang tertib, kurang alim dan lain sebagainya. Yakinlah kalau kita sudah pernah di doakan yang terbaik oleh guru kita walaupun mondoknya hanya beberapa saat. Oleh sebab itu kita harus mengingat guru kita (apalagi kehadirannya diinginkan oleh sang guru-seperti silatnas- kalau tidak ada kendala dan faktor yang menghalangi mestinya kita hadir, jawani; nek ra disempet-sempetke ya ra bakal sempet, karena kesibukan akan selalu ada). Momen haul adalah momen yang tepat untuk mengingat sang guru (walau tidak hanya haul saja kita ingat guru) dengan momen ini kita bisa mengingat guru yang telah membimbing dan mendo’akan kita apalagi sampai menghadiri majlis haul, kita bisa me-refresh memori masa lalu untuk dijadikan kenangan, renungan dan pelajaran. Dari aspek spiritual kita bisa memperbaharui niat ((تجديد النية mungkin kita sudah mulai lupa dengan tradisi keagamaan yang pernah dilakukan di pondok, kebiasaan beribadah, tradisi tolong menolong, tradisi menghormati dan lain sebagainya. Melalui momen haul ini kita bisa memperbaharui niat “dimanapun dan kapanpun kita tetap santri”.
Mengingat guru itu akan menambahkan barokah (وبذكرهم تتزّل البركة), barokah ilmu, rizki, anak turunan dan lain-lain. Termasuk mengingat guru adalah membacakan do’a atau mengirimi fatihah sebagai hadiah-ta’dzim kita kepada sang guru. Dalam dunia thoriqoh orang yang mengirimi fatihah kepada Nabi itu bagus tapi kalau tidak mengirimi (tidak menyebut guru) terdapat unsur kesombongan (memilih yang besar/pokok tapi lupa yang kecil/cabang), karena orang mengetahui Allah melalui guru dan orang mengetahui Nabi itu melalui ulama/guru dalam kaidah disebutkan;
(لولا المربّ لاما عرفنا ربّ ولولاالعلماء لاماعرفنا الانبياء)
Kita bisa mengetahui banyak hal itu melalui seorang guru dan sudah sewajarnya kita ingat kepada guru kita (disarikan dari pengajian Gus baha’). Selain itu, dalam ‘inayatul muftaqir bima yata’allaqa bi sayyidina khadir alaihissalam, karya syekh Muhammad Mahfudz attarmasi, dalam pengantar KH. Maimun Zubair menyebut kita diperintahkan oleh Allah untuk mencintai orang-orang saleh, cara mencintainya bisa dilakukan dengan mencari berita-berita tentang mereka, mencari kitab-kitab atau informasi lainya yang menjelaskan kisah dan teladan mereka, sehingga menjadi panutan dalam beramal dan berprilaku walaupun kita tidak seperti yang ditempuh mereka. Kita hanya bisa mengikrarkan kecintaan kita dan semoga Allah memasukkan kita pada golongan mereka dan bisa berkumpul di dalam surga meski kita bukanlah tandingan mereka dalam hal derajat. Dalam sebuah syair disebutkan:
أُحِبُّ الصَّلِحِينَ وَلَسْتُ مِنهُم...لَعَلِّى أَن أَنَالَ بِهم شَفاعةً
Aku mencintai orang-orang saleh meskipun aku bukan dari golongan mereka
Barangkali saja aku mendapatkan syafaat karena mereka.

Mengenal Mbah Nyai Walidah Moenawwir
Nyai. Hj. Walidah Moenawwir, lahir di Krapyak Yogyakarta pada Jum’at Legi, jam 09.00 tanggal 21 Ramadhan tahun Wawu (1865) atau bertepatan dengan tanggal 28 Desember 1934 M/21 Ramadhan 1353 H. Nyai Walidah adalah Putri dari K.H.M. Moenawwir bin Abdullah Rasyad bin Basari seorang ulama al-Qur’an Indonesia yang pertama kali mengajarkan ilmu qira’at sab’ah secara teori dan praktek dan menjadi rujukan masyarakat nusantara dalam pembelajaran al-Qur’an terutama di bidang membaca al-Qur’an baik bin-nadzri maupun bil-hifdzi. Nyai Walidah ini merupakan putri yang ke tiga dari lima bersaudara dari istri K.H.M.Moenawwir yang kelima yang bernama Nyai Khadijah Hasbullah dari Kanggotan Gondowulung Bantul Yogyakarta.  Namun yang hidup sampai dewasa hanya tiga yakni; Nyai Walidah (Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tahfidz An-Nur Ngrukem Yogyakarta ), KH. Ahmad (Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Krapyak Yogyakarta, periode ketiga setelah K.H.R. Abdul Qodir wafat) dan Nyai Zuhriyah (Pengasuh Pondok Pesantren Maunah Sari Bandar Kidul Kediri Jawa Timur) ketiga-tiganya hafal qur’an dan menjadi pengasuh pondok penghafal al-Qur’an. Sedangkan kedua kakaknya (Juwairiyah dan Durriyah) meninggal waktu kecil. Nyai Walidah hidup dilingkungan pesantren yang berbasiskan al-Qur’an, artinya keluarga dan lingkungan sangat mendukung Nyai Walidah untuk menjadi seorang yang ahli Qur’an. Nyai Walidah menghafal al-Qur’an dalam bimbingan Kakak sendiri (K.H.R. Abdul Qodir sekaligus guru mbah Nawawi Abdul Aziz di bidang tahfidz al-Qur’an) dan setelah selesai setorannya, Nyai Walidah melanyahkan hafalan (memantabkan hafalan) selama sepuluh tahun.  
Pada tahun 1952 dan bertepatan diusia yang ke-18 tahun, Nyai Walidah menempuh hidup baru menikah dengan KH. Nawawi Abdul Aziz, pernikahan yang sangat ideal sama-sama penghafal al-Qur’an dan lebih uniknya adalah satu guru dan jalur sanad al-Qur’an yakni; Nyai Walidah dan KH. Nawawi sama-sama mengaji al-Qur’an  riwayat Hafsh qira’ah Imam ‘Ashim kepada K.H.R. Abdul Qodir. Usia yang relatif masih muda, Nyai Walidah dengan Kyai Nawawi terpaut usia 9 tahun. Pertemuan keduanya atas prakarsa K.H. R. Abdul Qodir yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Nyai Walidah sosok perempuan yang sabar dalam mengarungi kehidupan rumah tangga dan mendampingi suami. Kesabaran Nyai Walidah ini terbukti ketika usia putra pertamanya baru berusia 7 bulan Nyai Walidah di tinggal suami mondok ke Kudus untuk mendalami ilmu qira’at Sab’ah (7 bacaan). Umumnya pada usia pernikahan dan putra yang relatif muda tersebut, masih selalu ingin di dampingi oleh suami, namun dengan kesabaran Nyai Walidah bisa  menjalani kehidupan rumah tanggga dan mengasuh putra pertamanya sedangkan suaminya berada jauh di sana. Setelah KH. Nawawi selesai mengaji qira’at sab’ah, Nyai Walidah ikut suami ke kutoarjo, setelah beberapa tahun kemudian Nyai Walidah kembali ke Krapyak bersama suami di panggil untuk membantu mengajar al-Qur’an di pondok pesantren Krapyak karena di tinggal wafat K.H. R. Abdul Qodir dan akhirnya menyebarkan ilmunya di Ngrukem Bantul Yogyakarta.
Selama di Desa Ngrukem Nyai Walidah sabar dalam mendampingi suami, berjuang bersama dan mau tinggal di rumah yang sangat sederhana (rumah yang tidak terlalu besar dan dindingnya terdiri dari bambu atau gedek) sebelah utara Masjid Ar-ridha, padahal Nyai Walidah adalah putri seorang kyai ternama di Yogyakarta tapi tetap setia mendampingi suami dengan kehidupan yang sangat sederhana, mau berjuang bersama suami. Akhirnya menjadi seorang yang sukses dalam mengabdikan ilmunya di masyarakat. Sosok perempuan yang sabar dan sederhana itu menurunkan putra-putri yang hebat dan saat ini meneruskan perjuangan kedua orang tuanya. Hampir seluruh putra-putrinya mengasuh pondok pesantren yang berbasiskan al-Qur’an. Karena perempuan yang hebat itu akan melahirkan keturunan yang hebat pula.
Selain itu, kepribadian Nyai Walidah juga sosok perempuan yang jarang bicara, artinya kalau berbicara seperlunya dan disegani masyarakat sekitar. Namun, kepribadian Nyai Walidah yang pendiam tidak menutup pergaulan dengan  masyarakat setempat (Nyai Walidah tetap serawung atau bermasyarakat dengan masyarakat sekitar). Bahkan apabila ada masyarakat sekitar yang memiliki hajatan (ewoh) seperti mantenan, kenduren dan lain sebagainya dan Nyai Walidah tidak sempat hadir untuk membantu (rewang) tetangga itu. Maka Nyai Walidah meminta pengurus putri untuk  membantu  tetangga pondok tersebut, terkadang 2-3 hari di rumah tetangga pondok yang memiliki hajatan.
Keduanya denga telaten dan istiqomah mengembangkan pengajian al-Qur’an di pesantren yang dirintis mereka berdua, pengajian al-Qur’an baik Bin-Nadzri (membaca) maupun Bil-Hifdzi/Ghaib (menghafal). Mbah Nyai Walidah mengampuh santri putri dan Mbah Nawawi mengampuh santri putra. Mulai dari santri yang mengaji Juz ‘Amma, Bin-Nadzri sampai Bil-Hifdzi dengan sabar, tekun serta istiqomah dalam mendampingi para santri terkadang dari habis maghrib sampai jam sepuluh malam, hanya jeda shalat Isya’ kemudian di lanjutkan kembali, dan kalau bulan puasa Mbah Nyai Walidah mengimami shalat terawih dengan khataman al-Qur’an (setiap 1 juz/1 ½ juz).
Sistem pembelajarannya di mulai dari surat al-Fatihah, Lafadz Tahiyyat sampai dengan shalawat Ala Sayyidina Muhammad, kemudian surat an-Nas sampai surat an-Naba’, baru kemudian surat al-Fatihah diteruskan ke surat al-Baqarah sampai khatam surat an-Nas. Sistem pembelajaran al-Qur’an seperti ini, tidak jauh berbeda dengan sistem pembelajaran yang di terapkan di pesantren ayahnya di Krapyak, hampi seluruh santri mbah Moenawwir mengikuti pembelajaran al-Qur’an yang di ajarka mbah Moenawwir. Nyai Walidah dalam mendampingi santri sangat telaten dan lebih menitiberatkan pada makharijul huruf, bahkan satu kaca (satu halaman) harus di ulang-ulang sampai lima kali, artinya harus benar-benar fasich dan sesuai kaidah tajwid, baru bisa meneruskan ke-maqra’ atau kehalaman berikutnya. Amanat mengajar santri ini benar-benar beliau jalani dengan telaten dan istiqamah, walaupun habis berpergian jauh dan pulang sampai larut malam, beliau tidak  meliburkan aktivitas mengajarnya, melainkan tetap mulang santri pada waktu Subuh. Berkat kesabaran dan ketelatenan Nyai Walidah inilah, banyak para santri putri menjadi pengahafal al-Qur’an bahkan mengikuti jejak Nyai Walidah menjadi pengasuh pondok pesantren penghafal al-Qur’an dan Nyai Walidah berpesan kepada para santrinya “pokonya kalau jadi bu Nyai itu, santrine kudu di tirakati”. Keistiqamah yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, selain sebagai ibu rumah tangga Nyai Walidah adalah mengajar santri, nderes al-Qur’an dan  membaca shalawat nariyah. Selain itu berdasarkan penuturan Bapak Kyai Muslim putra beliau, Mbah Nyai Walidah juga berpuasa sunnah selama 2 bulan berturut-turut (Rajab-Sya’ban) diteruskan puasa Ramadhan dan puasa sunnah Sawal hal itu sering dilakukan.
Pada tahun 1988 Nya walidah mengantarkan putra pertamanya (KH. ‘Ashim) lamaran ke Cirebon, namun, di tengah perjalanan menuju Cirebon musibah menimpa Nyai walidah dan rombongan terjadi kecelakaan yang menyebabkan terganggunya kesehatan dan kondisi badan Mbah Nyai Walidah. Setelah kejadian itu kondisi badan sedikit terganggu dan  tidak bisa berjalan hanya dibantu dengan kursi roda. Walaupun kondisi kesehatan Nyai Walidah yang demikian, tidak serta merta meninggalkan aktivitas kesehariannya, beliau selalu Nderes al-Qur’an dan terkadang mendengarkan murattalan al-Qur’an melalui kaset seperti imam al-Ghamidi. Pada sekitar pertengahan tahun 2011 Mbah Nyai Walidah mengalami sakit yang kritis kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Senopati Bantul dan di dampingi segenap putra-putri beliau. Sebelum detik-detik wafatnya Nyai Walidah putra-putri mendampinginya dengan nderes al-Qur’an. Pada sekitar jam 07.45, hari Selasa 05 Rajab 1432 H/07 Juni 2011 M. Nyai Walidah di panggil Allah swt. dalam usia ke-77 tahun dan dimakamkan di pemakaman keluarga sebelah barat pondok pesantren An-Nur putri. La’allashawab (Mohon dikoreksi kalau ada kekeliruan).
Jumat Kliwon, 3 Rajab 1438/31 Maret 2017
Abdul Kirom, M.Hum
Santri PP. An Nur Angkatan Tahun 2001

Post a Comment