Ads (728x90)

Memperingati hari kemerdekaan tentunya mejadi ajang tahunan yang luar biasa. Oleh sebab itu, Pondok Pesantren An Nur pun telah melakukan persiapan beberapa hari sebelumnya. Persiapan dimulai dengan memasang tiang bendera di halaman pesantren yang “dirubah” menjadi area upacara. Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang dibentuk dan petugas upacara lainnya rutin menjalani latihan setiap pagi hari. Pada saat latihan, tidak sedikit santri-santri yang tertarik untuk menonton. Terlebih, pada proses pembuatan replika helikopter yang nantinya akan ditampilkan dalam drama seusai upacara.
Upacara pengibaran bendera merah putih dimulai pukul 08.15 WIB. dengan peserta seluruh santri putra-putri yang berjumlah ratusan, terdiri dari santri/siswa tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) dan juga santri takhassus. Pada kesempatan ini, Rosyid Rifa’i menjadi komandan upacara. Sedangkan inspektur upacara adalah Muhammad Faisal BB.
Ada yang unik dalam penyenggaraan upacara, yakni para peserta memakai kostum yang berbeda-beda. Baik santri putra maupun putri memakai kostum sesuai dengan keinginan masing-masing. Diantaranya ada yang memakai pakaian modern, petani, anak sekolah, pejuang, dan tentunya masih banyak lagi. Kondisi ini didasari oleh kecintaan terhadap latar belakang budaya nusantara yang beraneka ragam. Sebagaimana yang dijelaskan Kuni Latifah, panitia “Budaya warisan leluhur jangan sampai luntur, hal ini juga sebagai wujud partisipasi kita terhadap Bangsa Indonesia”. Adapun dalam amanahnya, M. Faisal menyampaikan bahwa “Negara Indonesia merupakan negara yang merdeka dengan tangan rakyatnya sendiri” katanya penuh semangat. Berikutnya untuk do’a dipimpin oleh Gus Husni Bahaik.
Sekitar pukul 09.00 WIB upacara peringatan kemerdekaan selesai. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan drama kemerdekaan. Ini merupakan salah satu yang berbeda dengan tahun lalu, karena tahun lalu setelah upacara selesai dilanjutkan dengan berbagai lomba. Drama kali ini diperankan oleh santri-santri pilihan yang bisa disebut telah berhasil dalam berakting. Oleh karena itu para peserta tampak antusias, tidak langsung meninggalkan arena upacara. Bahkan pada saat inilah warga sekitar berdatangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Drama dengan tema “Merah Putih di Langit Pesantren” merupakan inisiatif dari Faisal.

Reporter: Ahmad Sangidu, Bintang Muhammad Nur Ikhsan dan Miftah Arifin

Post a Comment