Ads (728x90)


Judul
:
Gus Dur Penggerak Dinamisasi Pendidikan Pesantren
Penulis
:
Rohani Shidiq
Penerbit
:
Istana Publishing
Cetakan
:
I, Juli 2015
Tebal
:
xxiv + 220 halaman

Kiai haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) disebut sebagai tokoh yang “berangkat dari pesantren, kembali ke pesantren dan berjuang melalui (dan untuk) pesantren”. Sebuah pernyataan dari hasil analisis Rohani Shidiq terhadap sosok Gus Dur. Rohani, penulis buku ini mengajak pembaca untuk ikut mendalami “gerakan” Gus Dur dalam proses dinamisasi pendidikan pesantren. Maka tidak heran kalau pembahasan didalamnya banyak mengulas tentang dinamisasi ala Gus Dur.
Pada bagian pertama, pembaca diberi penjelasan terkait pentingnya dinamisasi yang perlu dilakukan Gus Dur untuk memajukan pendidikan Islam secara umum. Berikutnya di bagian kedua, penulis mengulas tentang rekam jejak (baca: perjalanan intelektual) Gus Dur sejak menggeluti pelajaran di pesantren rintisan kakeknya (KH. Hasyim Asy’ari), sampai kepemimpinannya di PBNU yang intens melakukan pembaharuan pendidikan Islam.
Dalam melakukan pembaharuan, Gus Dur menyandarkan pada tiga ranah, yaitu: pertama dari segi metodologi. Gus Dur memperkenalkan dan mengembangkan metode ilmiah popular dimana sumber kebenaran tidak bersifat monolitik; kedua dari segi substansi ajaran agama. Gus Dur tidak hanya bersandar secara pasif terhadap dogma-dogma pesantren, akan tetapi dengan lihai melakukan dialog dan kritikan terhadap nilai-nilai dogmatis di pesantren itu sendiri, dan; ketiga dalam memandang problem kemasyarakatan lebih mementingkan substansi dan menjauhi formalisme. (hal. 21).
Pada bagian selanjutnya, penulis menguraikan berbagai pemikiran Gus Dur yang terasa menyegarkan dunia pendidikan Islam di tanah air. Kemudian di bagian kelima, pembaca dapat mengetahui sejauhmana perjuangan Gus Dur dalam mengaplikasikan ide-ide cemerlangnya, termasuk tantangan yang berhasil dihadapinya dengan arif dan bijak.     
Sungguh menarik apa yang disajikan dalam buku ini. Membacanya seakan kita kian mengenal Gus Dur yang memang patut memperoleh kehormatan sebagai Guru Bangsa. Adapun sub judul yang terlalu banyak menghadirkan kesan kalau buku ini tidak ditulis secara “utuh”. Artinya, ada kemungkinan karya ini merupakan kumpulan dari puluhan artikel yang berbeda-beda tema dan waktu penulisannya. Meski demikian, buku yang ditulis oleh lulusan UNSIQ Wonosobo ini tetap penting dijadikan referensi bagi santri, dosen, mahasiswa dan para pengagum Gus Dur.

Post a Comment