Ads (728x90)

Sang cahaya yang dinisbatkan untuk guru besar kita, guru jasmani serta rohani kita, almarhum al-maghfurlah simbah kiai haji Nawawi Abdul Aziz Al Hafidz merupakan sebuah pertanyaan dibenak saya, darimanakah istilah itu berasal?. Tanpa bertanya dan tabayun, saya berusaha mencocokkan dengan apa yang saya ketahui tentang cahaya tersebut. Sebagaimana ilmu yang masih terus dipesankan oleh mbah Moen (KH. Maemun Zubair) Sarang hafidzahullah yang bernama ilmu titen.
Sudah tidak asing lagi bagi kita atau bahkan hafal sekali qosidah solawat badar, salah satu baitnya berbunyi :
أنت شمش أنت بدر # أنت نور فوق نور
Yang artinya kurang lebih :”Engkaulah sang mentari, engkaulah sang purnama # engkaulah cahaya di atas cahaya”. Pujian dari pengarang solawat badar ini untuk kekasihnya, juga kekasih kita, Baginda Nabi besar Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, tak ada yang sebesar dan seterang serta semanfaat daripada mentari di siang hari, tak ada yang seagung dan seelok daripada sang rembulan dimalam hari. Bahkan, mentari dan rembulan masih kalah cahayanya ketimbang cahaya Rosul shollallahu ‘alaihi wasallam, cahaya di atas cahaya lainnya, begitulah hakikat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan oleh pengarang simtudduror dalam kitab maulidnya, beliau menceritakan :
عن جابر بن عبد الله قال:قلت يا رسول الله بأبي أنت وأمي أخبرني عن أول شيء خلقه الله تعالى قبل الأشياء. قال: يا جابر إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيّك من نوره
Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah rodliyallahuanhu berkata : saya bertanya kepada Rosulullah, “Wahai Rosulullah, ayah ibuku sebagai tebusan engkau, beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang pertama kali Allah ciptakan sebelum segala sesuatu yang lain, lalu Rosulullah menjawab : “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah sebelum menciptakan segala sesuatu telah menciptakan nur (cahaya) nabimu, Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dari cahaya-NYA(Allah)”.
Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwa hakikat dunia ini diciptakan karena Rosulullah, beliaulah sang cahaya sebenarnya, lantas apa hubungannya dengan guru kita? Al ‘ulama warotsatul anbiya’ (ulama’ adalah pewaris para nabi), tidak hanya mewariskan tekad, semangat, ilmu, tekun, istiqomah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seorang ulama’ juga mewariskan cahaya dari Rosulullah, seperti Rosulullah yang hadir ditengah para sahabat menerangi hati mereka, begitupun juga simbah kiai Nawawi hadir ditengah kita untuk menerangi hati kita yang banyak noda hitam, menerangi dengan kharisma beliau, senyum beliau, ketekunan beliau, bahkan dengan doa-doa beliau.
***
Dikisahkan bahwa dulu ada seseorang yang dicalonkan lurah oleh warganya, sebut saja namanya bapak Tachsis. Namun, ia belum mengabulkan permintaan warga sebelum ia bertanya dan meminta petunjuk dari sang guru, dan ternyata yang dimaksud guru tersebut tak lain adalah simbah kiai Nawawi. Singkat cerita, pak Tachsis sowan (menghadap) pada mbah kiai untuk meminta arahan dari beliau. Simbah bertanya calon lawanmu sopo? (calon lawanmu siapa?)”, ia menjawab “si Fulan tiyang non muslim yai (si fulan, dia orang non muslim yai). Lalu simbah pun dawuh (menyuruh) wajib awakmu nyalon lan kudu dadi!(wajib bagimu mencalonkan diri dan harus jadi), lantas ia pun mantap dan pulang dengan hati lega.
Hari penentuan pun tiba, hiruk pikuk warga mewarnai proses pemilihan. Pada akhirnya, bapak Tachsis terpilih menjadi lurah. Selain kemenangan yang diperoleh dari jumlah suara terbanyak, terdapat pula barokah kiai. Sebab, nasihat, dukungan, dan doa dari simbah kiai juga berpengaruh besar dalam kemenangan tersebut. Begitulah ahlul Qur’an, dawuh dan keputusannya dapat menjadi sandaran bagi hati yang bimbang.
Demikian juga apa yang terjadi pada seorang anak muda bernama Lukman. Bahwa suatu hari almarhum al-maghfurlah simbah kiai haji Mufid Mas’ud (beliau masih kerabat dengan mbah kiai Nawawi dari jalur istri) yang merupakan kiai hafidz dan ahlul Qur’an pernah berkunjung ke pesantren tempat Lukman mondok. Saat itu Lukman masih SMA dan belum hafidz. Seperti biasa, seusai memberi pengajian dan ceramah, seluruh santri bersalaman ingin mendapatkan barokah beliau kiai Mufid. Seluruh ustadz juga tak kalah untuk nyadong barokah beliau. Sampai tiba giliran Lukman bersalaman, ia dihentikan sejenak oleh mbah kiai, lalu dicium keningnya dan berdoa untuknya. Lukman saat itu belum mengetahui apa-apa, ia hanya nderek saja apa yang dilakukan simbah kiai padanya. Hingga akhirnya sampai sekarang -setelah lama beliau wafat-, Lukman pun telah menjadi hafidz yang bacaannya enak, pelan dan suaranya merdu.
Lukman mendapatkan sanad al-Qur’an dari salah satu qurro’ Syam, syekh Mahir Al Munajjid hafidzohullah. Dan saat ini ia masih dalam proses menyelesaikan qiro’ahasyroh (yang jarang ada di Indonesia) bersama syekh Mahir tersebut. MasyaAllah, mungkin itulah karomah beliau, mengetahui apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, atau bahasa jawanya; “ngerti sakdurunge winarah”. Begitu juga saat beliau jalan-jalan di sekitar pesantren berhenti sejenak di sebuah lahan kosong. Beliau dawuh bahwa tanah ini esok akan didirikan bangunan pesantren. Dan ternyata benar, saat ini telah berdiri pesantren seperti dawuh beliau itu.
Itulah nur, itulah cahaya yang Rosulullah wariskan kepada para ulama’ kita, maka pantaslah sosok seperti simbah kiai haji Nawawi disebut sang cahaya. Sering tersirat dalam benak kita, bahwa kita memang ingin sekali menjadi santri beliau, baik santri di dunia maupun santri di akhirat nanti. Hal terpenting adalah tidak cukup kita hanya sebatas mendaftar sebagai santri, sowan ingin mengaji akan tetapi tingkah laku kita justru mencoreng nama baik guru kita maupun keluarga pesantren. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah pengakuan atau kepantasan bahwa kita itu memang pantas menjadi santri beliau.
Suatu hari -sebut saja namanya- Agus, mendambakan bermimpi bertemu guru-gurunya, karena sudah lama ia tak bertemu dengan gurunya. Lalu ia pun memperbanyak sholawat agar menjadi wasilah baginya untuk bertemu gurunya dalam mimpi. Disinilah keajaiban sholawat terbukti, apa susahnya sholawat coba? Kita hanya sholawat sekali, Allah membalasnya sebanyak 10x, tak perlu berberat hati untuk mengamalkannya. Atau mungkin banyaknya masalah yang kita alami karena kita sering melupakan Rosulullah, mengingatnya kala malam jum’at itu saja sambil malas-malasan. Nas alullahal ‘afwa wal ‘afiyah. Akhirnya Agus bisa bertemu dengan gurunya yang tidak lain adalah mbah kiai Nawawi. Dalam mimpi tersebut, mbah kiai tampak sedang mengadakan pengajian di ndalem (rumah/kediaman) beliau. Agus bersama temannya turut serta mengikuti pengajian sampai selesai. Saat tiba waktunya bersalaman dengan mbah kiai Nawawi, Agus mendapat giliran salaman paling akhir karena kebetulan posisi duduknya berada di belakang. Inilah yang kemudian perlu digaris bawahi; bahwa simbah nawawi ndangu (menanyai), bertanya kabar, seakan simbah Nawawi kenal dan hafal siapa Agus itu. Betapa senangnya Agus kala itu. Bukan hanya karena mimpi bertemu simbah, tapi karena simbah mengakui ia sebagai santrinya.
Agus pun teringat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitabnya, bahwa suatu hari Rosulullah berkata kepada sahabat Ubay bin ka’ab, “Sungguh Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengajarimu al-Qur’an”, lalu Ubay bertanya “Apakah Allah menyebut namaku?”, kemudian Rosulullah bersabda lagi “Ya. Lantas sahabat Ubay pun menangis, menangis bahagia karena namanya disebut oleh Allah subhanahu wata’ala.
Coba bayangkan kawan, nama kita disebut oleh Tuhan semesta alam melalui lisan Nabi-NYA, bagaimana perasaan kita?. Bagaimana rasanya kalau nama kita esok dipanggil oleh guru kita saat diakhirat, diajak masuk surga?. Semoga kita semua senantiasa terus berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi santri yang pantas beliau banggakan, yang menjaga dan mengamalkan apa yang beliau wasiatkan, beliau tidaklah pergi jauh, beliau ada dihati kita. Jikalau kita tak mampu melihat beliau, mungkin banyak kesalahan ada pada diri kita, akan tetapi kalau kita mampu melihat beliau itu murni karomah dan barokah beliau. Wallahu a’lam.
                                                                                                                                      
فإذاصحوت فأنت أول خاطري # وإذاغفا جفني فأنت الأخر
“Saat aku mulai terjaga, bayangmulah yang pertama kali terlintas dalam pikiranku, pun saat aku mulai terlelap, engkaulah yang terlintas dalam khayalku.”
Teruntuk engkau wahai Rosulullah, teruntuk engkau mbah Nawawi-ku, engkaulah sang cahaya.

*Ibnu Hajar al Jugjawiy.

Post a Comment