Ads (728x90)



Oleh: A. Kirom Qosim

Jayalah An-Nur Selamanya untuk agama nusa dan bangsa....sebuah lirik lagu yang diciptakan oleh Faisal BB, seorang santri senior asal Medan. Sebagai salah satu langkah untuk menuju An-Nur yang tetap jaya adalah tetap memiliki semangat yang sungguh-sungguh (fresh ijtihad) untuk melakukan kemajuan institusi pesantren yang signifikan dan sesuai dengan basic pesantren sebagaimana awal berdirinya pesantren ini (mestinya hanya ikhtiar bukan memaksakan kehendak yang sekira tidak bisa dicapai {QS/2:286). Maka dari itu pesantren sebagai sosok lembaga pendidikan yang tertua di Indonesia tetap berperan aktif untuk memberi kontribusi terhadap pilar Keislaman, Keagamaan, Keindonesiaan, Kebangsaan dan Kepesantrenan. Terutama dalam aspek “karakter dan moral santri” sebagai estafet generasi penerus. Hal itu dapat diaktualisasikan apabila pesantren dikelola dan di manage dengan baik dan tidak menghilangkan ciri khas kepesantrenannya.
Pesantren An-Nur atau juga dikenal dengan “pesantren tahfidz al-Qur’an” (yang fokus pada pembelajaran pada penguasaan al-Qur’an, mulai dari membaca, menghafal, tafsir, dan qira’at (ragam bacaan), sebuah pesantren ideal dan jitu untuk menempa kesalehan sosial yang berkepribadian luhur dan berakhlaq qur’ani) yang kepengasuhannya sudah memasuki periode putra setelah ditinggal wafat oleh pengasuh sekaligus pendiri; Al-Maghfirlah Simbah KH. Nawawi Abdul Aziz pada tanggal 24 Desember 2014/Malam Kamis Pon 3 Rabi’ul awal 1435, sekitar pukul 19.45 WIB (sebagai seorang santri hanya bisa mengucapkan seperti dalam Syair Qasidah Syaikhona: مع السلامة فی أمانه شيخنا
الله رب ارحم مربی روحنا… يا ربنا ). Sosok ulama yang memiliki semangat juang yang tinggi untuk mengembangkan dan memajukan pondok pesantren An-Nur, terbukti dengan berdirinya berbagai lembaga pendidikan, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Santri sebagai warastatul ‘ulama’ tidak cukup kalau hanya mengucapkan “We Love An-Nur”semata, melainkan terus aksi, kreasi dan berkontribusi semampunya. Spirit perjuangan itulah yang perlu di teruskan dan diteladani oleh segenap jamaah santri An-Nur.
Kepemimpinan Baru, Semangat dan Harapan Baru
Tulisan ini ditulis bertepatan dengan malam pelantikan Pengurus Pondok Pesantren An-Nur masa khidmat 2015-2017, malam Senin 02 Maret 2015. Kita ucapkan selamat bekerja, selamat memajukan An-Nur semoga An-Nur tetap jaya Amien. Pelantikan tersebut bukan sekedar ceremonial semata melainkan mengemban amanah, ikrar dan sumpah yang harus dilaksanakan sebagai tanggung jawab dalam kepengurusan kedepannya. Menjadi pengurus juga bukan kekuasaan atau jabatan gengsi-gensian, karena implementasinya tidak semudah dan tidak sebahagia ketika dilantiknya seorang pejabat negara dan sebagainya, melainkan harus berkeringat dan memeras otak untuk mengayomi dan melayani santri selama 24 jam dengan watak dan karakternya berbeda-beda (karena santri An-Nur dari berbagai pulau dan etnis di Indonesia, tentunya memiliki watak dan karakter yang berbeda) Jawa, Madura, Sunda, Melayu dan Batak, itu semua harus mampu di ayomi dan dilayani dengan hati dan jiwa yang besar (ikhlas) tanpa dibeda-bedakan. Keikhlasan inilah yang dikedepankan sebagaimana dawuh Simbah Kyai yang sudah beredar di media sosial “Jadi pengurus itu adalah jadi pegawainya gusti Allah, jadi yang akan membayar nanti gusti Allah, makanya harus ikhlas sebagai khadim al-ma’had”(KH. Nawawi Abdul Aziz), dawuh menunjukkan pengurus pesantren agar benar-benar mengabdi secara ikhlas karena  gusti Allah nantinya yang akan mbayar atau kalau sudah didaulat sebagai pengurus memikirkan kemajuan dan perkembangan kedepannya, teringat dengan ungkapan “jangan berpikir apa yang kita dapat melainkan berpikirlah apa yang kita beri dan apa yang kita buat” mestinya untuk pesantren An-Nur.
Menjadi pengurus pesantren adalah pengabdian santri, pembelajaran organisasi sekaligus tantangan (untuk menata diri/uswah, tabah dan sabar dalam menghadapi santri yang berbeda watak dan karakter tersebut) sebagai bekal ketika terjun di masyarakat, karena pesantren adalah gambaran kecil di masyarakat. Sewajarnya kinerja yang maksimal dibuktikan dalam mengurus; mulai dari srawung sosial, planning, controling dan networking. Seperti ungkapan Sayyidina Ali;بالنظم    الحق بلا نظم يغلب الباطلkebenaran atau kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh keburukan atau kebatilan yang terorganisir. Merujuk pada ungkapan Sayyidina Ali tersebut betapa pentingnya, menjadi bagian untuk mengurus hal-hal yang baik (seperti menjadi pengurus pesantren) karena kalau tidak, hal yang baik pun akan dikalahkan oleh hal yang buruk yang terorganisir atau di urus dengan baik. Akhirnya, pesantren An-Nur dengan adanya kepemimpinan yang baru; Dewan Pengasuh Baru, Pengasuh Baru, Ketua Yayasan Baru, Kepala Madrasah Baru  dan Kepengurusan Baru, dengan semangat dan harapan baru An-Nur akan terus jaya dan bersinar kepenjuru Indonesian khususnya. !!!Selamat Mengabdi, Selamat Bekerja !!!.









.

Post a Comment