Ads (728x90)

2428671B. Mengaji Al Qur’an
  1. Pengertian Al Qur’an
Al Qur’an secara bahasa berarti bacaan, sedangkan secara istilah adalah kalam Allah yang melemahkan tantangan musuh (mu’jizat) yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul yang terakhir dengan perantara Malaikat Jibril, tertulis dalam beberapa mushaf, dipindahkan (dinukil) kepada kita secara mutawatir, merupakan ibadah membacanya, dimulai dengan surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas.
  1. Fungsi Al Qur’an
a)      Al Qur’an sebagai petunjuk
b)      Al Qur’an sebagai pemberi peringatan
c)      Al Qur’an sebagai pemberi pelajaran dan sebagai obat dan rahmat
d)     Al Qur’an sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil
e)      Al Qur’an sebagai pemberi kabar gembira
  1. Keutamaan Membaca Al Qur’an
Keutamaan membaca al Qur’an telah banyak dijelaskan dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadis Nabi antara lain:
a. QS. Fathir : 29-30
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri
b. QS. Al A’raf: 204
“dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”
c. Hadits Nabi
المَاهِرُ بِالقُرْانِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِيْ يَقْرَاُ الْقُرْاَنَ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌ لَهُ اَجْرَانِ (رواه مسلم
Orang-orang yang pandai membaca al Qur’an digolongkan bersama assafaratil kiram al bararah (para Nabi dan syuhada’), dan orang yang membaca al Qur’an dengan gagap (kurang fasih bacaannya karena berat lidahnya dan sulit membetulkannya) namun hatinya sangat ingin membacanya maka ia mendapatkan dua pahala” (HR. Muslim)
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاَنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري)
“ Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya”(HR. Bukhori)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اَشْرَفُ اُمَّتِي حَمَلَةُ الْقُرْاَنِ (رواه الترمذي)
Yang paling mulia di antara umatku (Muhammad) adalah orang yang hafal al Qur’an” (HR. Turmudzi)
اِقْرَؤُوْاالقُرْاَنَ فَاِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِاَصْحَابِهِ (رواه الترمذي)
“ Bacalah al Qur’an. Sesungguhnya ia akan memberi syafa’at bagi pembacanya pada hari kiamat” (HR. Turmudzi)
إِنَّ هَذَالْقُرْاَنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَتَعَلَّمُوْا مِنْ مَأْدُبَتِهِ مَااسْتَطَعْتُمْ (متفق عليه)
Sesungguhnya al Qur’an itu jamuan Allah, maka pelajarilah jamuannya semampumu” (HR. Bukhori-Muslim)
  1. Etika Membaca Al Qur’an
a)      Menggosok gigi/ bersiwak sebelum membaca
b)      Bersuci dari hadats kecil dan besar
c)      Membaca di tempat yang suci
d)     Menghadap kiblat
e)      Membaca ta’awwudz
f)       Membaca basmalah
g)      Khusyu’ dan bertadabbur terhadap ayat-ayat al Qur’an
h)      Menangis ketika membaca ayat-ayat adzab
i)        Membaca dengan tartil
j)        Memohon rahmat kepada Allah saat membaca ayat-ayat rahmat
k)      Menjauhi senda gurau
l)        Tidak membaca al Qur’an dengan bahasa ‘ajam (selain Arab)
  1. Keutamaan Menghafal Al Qur’an
Di antara keutamaan menghafal al Qur’an adalah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagai berikut:
تَعَلَّمُوْا الْقُرْاَنَ وَاقْرَؤُوْهُ, فَإِنَّ مَثَلُ الْقُرْأَنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ كَمَثَلِ جَرَا بِ مَحْشُوٍّ مِسْكًا, يَفُوْحُ رِيْحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَمَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ جَرَابٍ أَوْكِيَا عَلَى مِسْكٍ
“ Pelajarilah al Qur’an dan bacalah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari al Qur’an dan membacanya adalah seperti tempat air penuh dengan minyak wangi misik, harumnya menyebar kemana- mana. Barang siapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan al Qur’an adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak wangi misik.
مَنْ قَرَأَ الْقُرْأَنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُوْرٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ وَيُكْسَى وَالِدُهُ حُلَّتَيْنِ لاَ تَقُوْمُ لَهُمَا الدُّنْيَا فَيَقُوْلاَنِ : بِمَا كُسِنَا هَذَا ؟ فَيُقَالُ يَأْخُذُ وَلَدُكُمَا الْقُرْأَنَ
“ Barang siapa yang membaca al Qur’an, mempelajari, dan mengamalkannya, maka ia akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Kedua (orang tua)nya pun bertanya, “ mengapa kami dipakaikan jubah ini?”, dijawab, “ karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al Qur’an”.
  1. Metode (Thariqah) Menghafal Al-Qur’an
a) Metode (thariqah) Wahdah
Yaitu menghafal satu per satu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak sepuluh atau dua puluh kali. Dengan ini santri akan mampu mengkondisikan ayat-ayat yang dihafalkannya bukan saja dalam bayangannya, akan tetapi hingga benar-benar membentuk gerak refleks pada lisannya. Setelah benar-benar hafal baru melanjutkan pada ayat-ayat berikutnya hingga mencapai satu halaman (kaca)
b) Metode (thariqah) Kitabah
Yaitu menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafal pada secarik kertas, lalu dibaca berulang-ulang sehingga lancer dan benar bacaannya lalu dihafalkannya
c) Metode (thariqah) Sima’i
Yaitu mendengarkan suatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan sangat efektif bagi penghafal yang mempunyai daya ingat ekstra, terutama bagi penghafal tunanetra atau anak-anak yang masih di bawah umur yang belum mengenal baca tulis Al-Qur’an. Metode ini bisa dilakukan dengan; mendengar langsung dari guru yang membimbingnya, dan mendengarkan dari kaset, MP3, dsb.
d) Metode (thariqah) Gabungan
Yaitu penggabungan antara metode wahdah dan metode kitabah. Prakteknya adalah setelah santri selesai menghafal ayat Al-Qur’an, kemudian ia menuliskannya di kertas. Jika ia sudah mampu mereproduksi kembali ayat-ayat yang dihafalnya dalam bentuk tulisan, maka ia bisa melanjutkan menghafal ayat-ayat berikutnya.
e) Metode (thariqah) Jama’
Yaitu cara menghafal yang dilakukan secara kolektif, yakni ayat-ayat yang dihafal dibaca secara bersama-sama di bawah bimbingan seorang guru. Diawali dengan guru membacakan satu ayat atau beberapa ayat terlebih dahulu lalu santri mengikutinya secara binnadzri. Setelah bacaannya baik dan benar, maka sedikit demi sedikit berusaha membaca ayat tersebut dengan menutup mushaf. Setelah semua santri hafal baru dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya dengan cara yang sama
  1. Strategi Efektif dan Praktis dalam Menghafal Al Qur’an
a)      Melandasi dengan niat yang ikhlas dan memohon ridho Allah
b)      Berguru dan menyetorkan hafalannya pada ulama’ yang hafidz
c)      Memelihara diri dari hadats kecil maupun hadats besar
d)     Shalat maktubah dengan tertib dan berjama’ah, memperbanyak shalat maupun amalan sunnah lainnya, serta memperbanyak berdo’a khususnya pada waktu- waktu istijabah, seperti; setelah sholat maktubah, antara adzan dan iqamah, pada sepertiga malam terakhir, dsb.
e)      Menggunakan mushaf al Qur’an yang baku (tetap) selama proses menghafalkan al Qur’an. Hal ini dikarenakan seorang penghafal ketika mengulangi hafalannya yang diingat bukan hanya bunyi dan susunan kalimatnya saja tapi mengingat bentuk dan letak tulisan mushaf juga menjadi kunci penting yang sangat membantu penghafal. Untuk itu dianjurkan menggunakan Qur’an Pojok, yang memiliki ciri-ciri:
  • Setiap juz terdiri dari sepuluh lembar
  • Pada setiap halaman diawali dengan awal ayat dan diakhiri dengan akhir ayat
  • Memiliki tanda-tanda visual yang cukup membantu dalam proses menghafal Al-Qur’an, seperti tanda sajdah, rub’u (seperempat juz), nishfu (setengah juz), dsb.
f)       Konsentrasi penuh
g)      Membuat target hafalan harian. Yaitu mengalokasikan waktu yang cukup untuk membuat hafalan baru dan mengulang hafalan(takrir/ mudarosah). Misalnya:
  • Menghafal pada waktu pagi selama satu jam dengan target hafalan satu halaman untuk hafalan awal dan satu jam lagi untuk hafalan pemantapan pada sore hari
  • Mengulang hafalan pada waktu siang hari selama satu jam dan malam hari selama satu jam. Pada waktu siang untuk mengulang hafalan-hafalan yang masih baru agar lekat dalam ingatan dan malam hari untuk mengulang dari juz pertama sampai juz terakhir yang sudah dihafalnya secara tertib dan istiqomah, misalnya satu, dua, atau tiga juz perharinya.
h)      Tidak beralih pada ayat berikutnya sebelum ayat yang sedang dihafal benar-benar dihafal
i)        Memilih model/ metode menghafal yang tepat
j)        Mengenal ,mengidentifikasi, ataupun memberi tanda pada ayat-ayat yang redaksinya hampir sama tetapi berbeda. Banyak kitab maupun buku yang menjelaskan daftar ayat- ayat dengan redaksi mirip, dan ini hendaknya dipelajari sehingga seorang mutahaffidz dapat terbantu ketelitiannya dalam menghafalkan ayat-ayat al Qur’an
k)      Memahami (pengertian) ayat-ayat yang dihafalnya. Misalnya alur kisah atau asbabunnuzul yang terkandung dalam ayat yang sedang dihafalnya
l)        Simak-menyimak, artinya seseorang membaca hafalan al Qur’annya dengan disimakkan( diperdengarkan) oleh seorang teman yang mendengarkan bacaannya dan mengoreksi kebenaran hafalannya, baik menyimaknya tadi dengan melihat ataupun tanpa mushaf (jika penyimak seorang yang bagus hafalannya)
m)    Memiliki waktu yang cukup dan mampu mengatur kegiatan hariannya dengan disiplin. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti kegiatan harian pondok yang sudah terjadwal dengan tertib, serta mempergunakan waktu luangnya untuk tadarrus( individual maupun berkelompok), menambah hafalan, ataupun mempersiapkan hafalan yang akan disetorkan (diajukan) kepada guru
n)      Menjaga kesehatan. Sebagaimana slogan yang jamak diketahui “ dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Artinya, kesehatan fisik harus dijaga dengan baik, karena ini mempengaruhi psikis seorang mutahaffidz ( yang dalam proses menghafalkan al Qur’an) yang nantinya berpengaruh pada konsentrasinya mengaji serta kelancaran seluruh aktivitasnya. Karena itu, seorang santri harus menjaga kesehatannya dengan cara makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan memperbaiki pola hidupnya.
  1. Upaya Menjaga Hafalan Al-Qur’an
a) Yang dilakukan oleh Rasulullah
Dalam proses pemeliharaan terhadap Al-Qur’an yang diterima oleh Rasulullah, beliau selalu mencocokkan hafalan kepada malaikat Jibril setiap bulan Ramadhan. Sebagaimana dikatakan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya.
كَانَ جِبْرِيْلُ يُعَرِّضُ القُرْانَ عَلَى النَّبِيِّ قَالَ مَسْرُوْقٌ عَنْ فَاطِمَةَ عَنْ عَائِشَةَ اَسَرَّ اِلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ اَنَّ جِبْرِيْلَ يُعَارِضُنِي بِالقُرْانِ كُلَّ سَنَةٍ وَاَنَّهُ عَارِضَنِي العَامَ مَرَّتَيْنِ (رواه البخاري )
Sesungguhnya Jibril menyuguhkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. Lalu Masruq berkata: dari Fatimah dari Aisyah RA: Nabi SAW. telah membisikkan kepadaku bahwasannya malaikat Jibril menyuguhkan Al-Qur’an kepadaku setiap tahun (pada bulan Ramadhan) dan pada tahun ini ia (Jibril) menyuguhkan Al-Qur’an kepadaku sebanyak dua kali.” (HR. Bukhori)
b) Yang dilakukan oleh para sahabat
Di antara para sahabat ada yang membaca Al-Qur’an satu kali khatam dalam satu hari, ada yang satu malam sekali, ada yang sehari semalam satu khataman, ada yang seminggu sekali atau dua kali khatam, ada pula yang sebulan atau dua bulan sekali khataman.
Mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam seminggu sekali membuat rumusan sebagai berikut:
1) Sahabat Usman
- Malam jum’at membaca dari surah al-fatihah sampai surah al-maidah
- Malam sabtu membaca dari surah al-an’am sampai surah Huud
- Malam ahad membaca dari surah Yusuf sampai surah Maryam
- Malam senin membaca dari surah Thaha sampai surah Asy-Syu’ara
- Malam selasa membaca dari surah Al-‘Ankabut sampai surah Shaad
- Malam rabu membaca dari surah Az-Zumar sampai surah Ar-Rahman
- Malam kamis membaca dari surah Al-Waqi’ah sampai surah An-Naas
2) Sahabat Mas’ud
- Hari pertama membaca 3 surah
- Hari kedua membaca 5 surah
- Hari ketiga membaca 7 surah
- Hari keempat membaca 9 surah
- Hari kelima membaca 11 surah
- Hari keenam membaca 13 surah
- Hari ketujuh membaca selebihnya hingga khatam
3) Beberapa ulama ada yang menerapkan rumusan فَمِيْ بِشَوْقٍ . dari segi bahasa memiliki arti “lisanku selalu rindu(membaca Al-Qur’an)”. Sedangkan yang dimaksud rumusan tersebut adalah
- فs/d م : membaca surah alfatihah sampai surah al-maidah
- م   s/d ي : membaca surah al-ma’idah sampai surah yunus
- يs/d ب : membaca surah yunus sampai surah bani israil
- ب   s/d ش : membaca surah bani israil sampai surah asy-syu’ara
-  ش   s/d و   : membaca surah asy-syu’ara sampai surah wash-shaffat
-  و   s/d ق   : membaca surah wash-shaffat sampai surah Qof
- ق   s/d    ختم: membaca dari surah Qof sampai khatam

Post a Comment