Ads (728x90)


Kecerdasan intelektual seseorang ternyata sangat erat hubungannya dengan kebersihan hati dan jiwa. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hajj (22): 46 sebagai berikut:

Artinya: “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa substansi yang mampu ber’aql adalah qalb. Ber-‘aql di sini berarti mempunyai kecerdasan sebagaimana dijelaskan Ibnu Zakariya (w.395 H/1004 M) bahwa semua kata yang terdiri dari huruf ‘ain, qaf, lam menunujukan kepada arti kemampuan mengendalikan sesuatu, baik berupa perkataan, pikiran, maupun perbuatan. Dari sini secara jelas menunjukan bahwa hati (qalb) adalah subtansi yang berperan mengendalikan jasmani dan rohani manusia.

Sebagaimana nasehat Kyai Waki’ pada murid beliau dalam nadhom berikut :
شكوت الى وكيع سوء حفظي * فارشدني الى ترك المعاصى
واخبرني بان العلم نور * ونورالله لا يهدى للعاصي

“Aku mengeluh kepada Kyai Waki’ tentang buruknya hafalanku
*Maka beliau measehatiku untuk meninggalkan kemaksiatan  
Dan Beliau megatakan bahwa ilmu adalah cayaha
*Sedangkan cayahanya Allah SWT tidak akan diperuntukkan kepada orang-orang yang berbuat maksiat”

Dengan kebersihan hati (jiwa) maka akal menjadi jernih dan dada terasa lapang. Dan inilah saatnya memfungsikan akal untuk berfikir dan  memunculkan ide-ide yang cemerlang. Memberi kemanfaatan bagi pribadi dan sesama. Anum Ln

Post a Comment