Ads (728x90)


Oleh; El Faqirah Nay
Ada tekhnik cukup bagus yang diperkenalkan oleh para pengarang dalam berkarya –terutama cerpen, yakni memberi sugesti kepada para pembaca bahwa, kisah yang diceritakan terkesan betul-betul ada dan terjadi. Tekhnik tersebut, kali ini dapat kita lihat melalui karya Ir. Sodiq yang berjudul “Langit Ke Tujuh” pada akar bumi edisi September ini. Mari kita simak baik-baik sugesti yang telah diciptakan Ir Sodiq pada awal pembuka cerita.
Allah mungkin sayang sama aku, hingga aku diberi perjalanan hidup yang penuh rintangan, aku dilahirkan tanpa seorang ayah dan ibu yang sangat kusayangi, ayah meninggal ketika umur kakakku masih 12 tahun, sedangkan ibu meninggal saat melahirkan aku di rumah sakit.
Dengan tekhnik seperti di atas, Ir Sodiq menjadikan karyanya terasa teramat nyata, pembaca dibuat bertanya-tanya apakah cerita tersebut diangkat dari kehidupan pribandinya, mengingat tokoh utamanya adalah “aku”. Seorang bocah yang kehilangan ayah dan ibunya, namun berkat karunia-Nya, ia memiliki kakak yang sangat perhatian kepadanya, seolah-olah ini adalah curahan hati Ir Sodiq sendiri, meskipun tidak semua tokoh “aku” dalam cerita itu menggambarkan pribadi pengarangnya, atau bisa saja ini hanya imajinasi Ir Sodiq tentang seorang anak yang kehilangan ayah dan ibunya. Terlepas dari cerita tersebut nyata atau tidak, Ir Sodiq telah berhasil menciptakan sugesti pada karya yang diciptakannya, didukung dengan gaya bahasa Ir Sodiq yang sederhana, lugas dan apa adanya.
Di sisi lain, terdapat kelemahan yang cukup fatal dari cerpen tersebut, yakni jarang adanya celah dalam menunjukkan karakter tokoh cerita, apakah suatu tokoh itu pemarah, lugu, sabar, dll. Padahal menujukkan karakter sangatlah penting dalam sebuah cerpen. Penunjukan karakter tersebut bisa dibuat dengan memaksimalkan intonasi nada dalam percakapan, penggunaan dialog, tanda baca, pemaparan ekspresi/tingkah laku, serta merespon ungkapan lawan bicara. Karena kurangnya pemaparan karakter tokoh, cerpen karya Ir Sodiq terasa kering dan mati, coba kita simak dengan seksama percakapan antara tokoh “aku” dan “kakak” berikut,
“Din, besok setelah lulusan, kamu mondok aja ya?”
“Tapi kak, besok kakak di rumah sama siapa?”
“Tak usah kau pikirkan, itu urusan kakak! Besok kamu sekolah sambil mondok di sana”
“Terus biayanya dari mana?”
“Kakak bilang tak usah kau pikirkan, itu urusan kakak”
Mendengar itu akupun terdiam.
Percakapan antara tokoh aku dan kakak di atas terasa hambar, kalau diibaratkan makanan tidak terasa asin, juga tidak terasa manis, hal tersebut dikarenakan tidak adanya gambaran mimik atau respon tingkah laku tokoh cerita ketika berbicara, sehingga pembaca tidak dapat menemuka karakter tokoh cerita yang diinginkan penulis. Selain itu, pembaca juga tidak dapat menerka intonasi nada bicara tokoh cerita. “Kakak bilang, tak usah kau pikirkan, itu urusan kakak” ungkapan seperti ini, seperti sebuah bentakan, tapi apakah benar itu yang diinginkan Ir Sodiq mengingat pada awal cerita ia menceritakan melalui tokoh aku bahwa tokoh kakak adalah sosoknya yang perhatian terhadapa adiknya.
Akan jadi berbeda dan terasa adanya harmoni dalam percakapan, bila ditambah seperti ini, misalnya.
“Din, besok setelah lulusan, kamu mondok aja ya?”
“Lha kalau Udin mondok, kakak di rumah sama siapa dong?” kualihkan mataku dari buku pelajaran, memandang kakak yang amat kucintai, kakakku yang tegar, kakakku yang tak pernah mengeluh.
“Yah, sendirianlah... kakak cari uang, Udin yang belajar, oke? Besok kamu mondok sambil sekolah di sana”
“Terus biayanya gimana?”
Kakak tersenyum menghampiriku, ia jongkok di depanku yang duduk di kursi meja belajar, membuatku harus menunduk agar bisa menatapnya. “Kamu bandel ya? Kan tadi kakak udah bilang tugas kamu hanya belajar, urusan yang lain termasuk biaya, itu urusan kakak, mengerti kan?”
Aku menganggukkan kepala, kakak lagi-lagi tersenyum, tangan kanannya yang lembut membelai rambut kepalaku.
“Kamu pasti jadi orang pintar...” ucap kakak pelan.
Seperti itulah, sebuah cerita bagaimana seorang kakak menunjukkan kasih sayang dengan membelai kepala sang adik atau dengan memberi motivasi, semua itu ditunjukkan dalam bentuk tulisan, sehingga pembaca dapat menerka karakter tokoh yang diinginkan oleh penulis.
Dengan demikian, alangkah baiknya jika karya dalam sebuah cerpen dapat menggambarkan karakter tokoh dan suasana hati tokoh yang sedang dimainkan, karena karya tulis berbeda dengan seni drama dengan intonasi bicara dan watak tokoh bisa dilihat langsung, baik dari mimik wajah atau saat mendengar nada bicara tokoh cerita.
Karya yang ditulis seperti karya Ir Sodiq yang mengangkat tema “kehilangan”, seharusnya dengan tema yang seperti itu, pembaca bisa berempati, bahkan sampai menitikkan air mata saat membacanya.
Akan tetapi, di luar dari penisbian itu, secara umum cerpen ini cukup berhasil, apalagi jika Ir Sodiq adalah seorang pemula, maka teruslah membaca, membaca, dan membaca untuk menghasilkan karya yang lebih utuh, karena suatu kewajaran jika menulis, mau tidak mau harus berdampingan dengan pembaca. Salam sastra!.

Post a Comment