Ads (728x90)

Oleh: Fiya Annaura

Namaku Dinda. Sebelum cerita itu  melesat dan menikam ulu  hati, bagiku persahabatan adalah laksana mercusuar yang bersinar bebas dalam gelapnya malam , laksana tongkat ada dikala kita rapuh ,mereka asa walau tak selalu bersama dan untaian mutiara doa akan terus mengalir dalam pusaran sebuah persahabatan .Ternyata kenyataan kadang seperti bumerang. Yang berharap menjauh, yang dicegah malah beruntun. Kini malam makin menggurita tapi asramaku tetap terjaga, seolah waktu adalah sang raja dan aku tetap dengan monologku, dengan dinding yang aku yakini tidak akan pernah lelah mendengar dan tetap putih  dan diam seperti mayat.
Kuceritakan padamu kawan kegembiraanku memiliki mereka. Mereka yang bagiku bagai obor generasi muda, teman dunia  akhirat dan kristal  yg aku jaga. Ah...itu sebelum cerita itu datang .kini kawan sebesar alam raya inikah salahku padamu? Karena aku jarang nimbrung dalam obrolanmu? Ah kalau itu kawan, aku  punya alasan tersendiri...karena Tuhan menciptakan kita berbeda –beda dan saling melengkapi, kupikir kaulah potongan-potongan pelengkap hidupku. Atau bukan  itu kesalahanku? Terlalu angkuhkah aku padamu kawan? Apa lidah ini setajam samurai yang mengoyak isi hatimu? Padahal aku masih menghutang kekuatan matahari, bumi, dan gunung untuk tersakiti kenyataan. Aku masih hutang pada mereka untuk sapaan halus tanpa topeng, untuk do’a yang terlantur dalam lidah keluku dan untuk tetap membanggakanmu. Semua tanpa topeng. Ikhlas untukmu. Tapi aku bukan malaikat atau nabi atau sahabatnya. Aku Dinda, berusaha berbagi tanpa hasrat untuk diberi. Aku Dinda, tertatih-tatih walau jalan semakin tidak berhati.
Malam tepat di sepertiganya. Lantai pun sedingin es di jayawijaya, dan asrama tepat seperti kuburan tua. Kutarik selimut tebalku dan mataku seperti bianglala yang terus berputar tanpa pelumas. Kesat.
***
Aku Alisa. Kegemaranku menjadi-jadi ketika sekelompok persahabatan itu mulai goyah oleh ruang dan waktu. Aku mungkin bagai setan yang mulai menyematkan kata-kata halusku kepada Dinda, sahabat mereka. Akan kubuat Dinda percaya bahwa akulah orang yang terpeduli pada kawan seperti dia. Kuberikan berita tentang perasaan sahabat-sahabatnya terhadap dia, bahwa mereka mengatakan di belakangmu “ini dan itu”. Tapi sayang Dinda seolah-olah tidak tertarik dengan kata-kata itu, tapi aku berhasil membuatnya tercengang, satu langkah berhasil.
Jam mulai menunjukkan pukul dua belas, tapi sang matahari tidak mampu menembus awan gelap yang memeluk bumi. Dan aku melihat Dinda duduk khusyuk melantunkan ayat-ayat suci yang ia hafal.
“ah...sungguh rajinnya.”
    Kadang aku bingung dengan hati ini yang selalu sakit jika melihat persahabatan mereka yang begitu dekat, sesak rasanya. Padahal mereka sungguh baik padaku. Dosakah aku Tuhan padahal aku sendiri tidak menginginkan rasa ini datang dan mengganggu mereka. Tapi rasa ini datang menghujam dan akhirnya kakiku tergerak mendekat ke arah Dinda duduk. Kuceritakan  lagi cerita itu, bahwa mereka sangat membencinya. Kali ini Dinda berkata dengan air mata terurai.
“Alisa...apakah kita melakukan kebaikan hanya karena berharap orang lain akan berbuat baik kepada kita? Tentu tidak. Pastikan kita berbuat baik karena Allah menyukai kebaikan. Dan Dia akan meridhoinya.”
    Ah...kata-katanya sungguh mulia. Tapi aku tetap tidak goyah sedikitpun. Rencana ke dua berhasil, dan persahabatan itu akan hancur. Selanjutnya semua berjalan lancar sesuai rencana.  Sampai pada suatu ketika aku melihat Dinda tertidur dengan mata sembab di depan kamarnya, dengan tangan yang masih menggenggam pena dan buku yang masih tergeletak di sampingnya. Aku berusaha tidak peduli tapi tidak bisa. Aku melihat isi buku itu yang tulisannya hampir luntur akibat tetesan air mata.
“kawan jika aku salah, tegurlah aku dengan kebijaksanaanmu, jangan memakai topeng manismu. Ku mohon...ya Allah...kini aku mulai bingung mana teman mana lawan, mana saudara mana musuh. Yang kutahu aku hanya dapat berdo’a siapaun dia yang tersakiti dan menyakiti maafkan kami, dan lapankanlah hati kami dalam menerima semua takdirmu. Karena hidup harus tetap berlanjut walau terkadang takdirpun kurang ramah.”
    Tidak terasa  air mataku meleleh hatiku hangat, dan aku merasa melihat ribuan malaikat mengamini do’anya yang tulus, dan hatiku lapang, benar-benar lapang.
***
    Aku Santika sahabat Dinda, aku benar-benar bahagia dan bangga pada persahabatan kami. Walau dia kadang tidak bersama kami. Aku tahu dia memang punya kesibukan itu, tapi terkadang aku juga meridukannya. Menurutku Dinda baik, ramah, tapi kadang tajam juga kata-katanya. Tapi itu tidak masalah, dan jika sakit hati paling satu dua hari sudah lupa. Memang masalah komunikasi kurang tapi kita tetap sahabat dunia dan akhirat. Dan aku menyukai persahabatan kami.
***
    Dinda. Aku sangat lelah dan kini aku berada di titik nol kehidupan yang berujung kepasrahan sampai aku menangis dan tertidur di depan kamarku dan pada saat itu aku bermimpi melihat sebuah bayangan besar, bercahaya dan bersayap mendekapku dan berbisik
“amiiin....”

Post a Comment