Ads (728x90)

Pendidikan Q-ta
Oleh : Muhammad Taufiq*
Sebagai bangsa yang menyongsong kemajuan diberbagai bidang, Indonesia patut memberi perhatian lebih pada aspek pendidikan. Kesadaran terhadap arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan masyarakatnya. Fungsi pendidikan tidak hanya sebagai wahana menambah wawasan dan teori semata. Namun, pendidikan berupaya untuk menyentuh titik paling vital pada diri manusia agar terbentuk kepribadian yang handal. Sehingga, mampu berperan aktif dalam setiap perubahan zaman dan menyikapinya dengan arif. Tidak mudah terbawa oleh budaya atau penyakit sosial yang justru meracuni generasi bangsa ini.
Moral masyarakat sebuah bangsa merupakan cermin dari keberhasilan pendidikan itu sendiri. Maka tak heran apabila pendidikan dianggap gagal kalau tidak dapat membentuk moral yang baik dan berimplikasi terciptanya tujuan akhir yang positif. Dan situasi ini tentunya lebih mengedepankan moralitas sosial tanpa menafikan moralitas lainnya. Di sisi lain, kecenderungan untuk menekankan spesialisasi di bidang tertentu tak urung lepas dari nilai-nilai etika sosial. Dampak yang muncul kemudian adalah terjadinya kesenjangan sosial dan dekadensi moral.
Banyak sudah prestasi yang diraih oleh bangsa ini melalui generasi mudanya. Dari skala nasional sampai tingkat internasional. Salah satunya bisa dilihat dari perjuangan putra-putri bangsa yang berhasil membawa harum nama Indonesia dalam kejuaraan olimpiade. Kesempatan untuk terus maju terbuka bagi siapa saja, termasuk rakyat Indonesia. Maka disinilah letak peran penting pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan menjadi tiang pancang Negara dalam mencerdaskan masyarakatnya, mempertahankan eksistensi dan menjaga keutuhan bangsa. Dan tujuan luhur ini tidak akan pernah tercapai tanpa adanya komitmen untuk saling mendukung dan menjunjung tinggi semangat kebersamaan.
Melemahnya sikap gotong royong, saling memberi, menghormati sesama dan keinginan untuk selalu berbagi tampaknya berawal dari munculnya sifat egoisme. Maraknya praktek korupsi, tawuran antar pelajar, meningkatnya penggunaan Narkoba dan menjamurnya tindak kriminal lainnya telah menjadi bukti nyata pudarnya rasa kepedulian terhadap orang lain. Dengan melakukan korupsi, seseorang dapat memperoleh kekayaan yang melimpah di atas penderitaan rakyat miskin. Setiap tawuran yang terjadi selalu menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Baik itu materi maupun korban jiwa.
Dasar Pendidikan Moral
Tidak bisa tidak, keluarga merupakan elemen terpenting sebagai basis pendidikan. Kondisi ini didasari oleh kebutuhan yang mendorong tumbuhnya moralitas positif dari kesejahteraan rumah tangga. Orang tua bertanggungjawab atas segala hal-ihwal kehidupan anaknya. Seringkali kita menemui kasus tentang remaja yang terjerat Narkoba atau pergaulan bebas lainnya disebabkan kurangnya perhatian maupun kasih sayang orang tua. Kesibukan orang tua ditempat kerja dan pertengkaran yang terjadi antara ayah dan ibu secara perlahan mengantarkan keluarga pada kondisi broken home. Efeknya, anak kemudian mencari tempat pelarian yang dianggap nyaman dan jauh dari permasalahan yang timbul dalam keluarga. Sayangnya, itu bukanlah solusi yang tepat. Rasa kedamaian yang diperoleh hanyalah berupa kenikmatan sesaat. Selanjutnya, masa depan suram akibat salah pergaulan telah menanti.
Faktor selain keluarga yang menjadi modal dasar guna membentuk moral serta kepribadian ialah pendidikan di sekolah. Keberadaan lembaga sekolah turut berperan mencetak kader bangsa yang memiliki mental kuat dan akhlak terpuji. Seorang guru dituntut profesionalitasnya dalam mengajar sekaligus membimbing. Dan juga, guru diharapkan dapat memberi teladan yang baik demi perkembangan moral anak didiknya. Menurut ilmu kejiwaan, murid cenderung meniru tingkah laku gurunya. Apa yang diamati oleh murid akan ditirunya, terlebih bagi murid yang ingin mengidentifikasikan dirinya dengan orang yang dihormatinya.
Seorang filosof ternama, Charles Reade, berkata: “Sow a thought and you reap a habit, sow a habit and you reap a character, sow a character and you reap a destiny” (Tanamlah pemikiran maka kau akan memanen kebiasaan, tanamlah kebiasaan maka kau akan memanen watak, dan tanamlah watak maka kau akan memanen sebuah nasib). Membiasakan sesuatu amal atau perbuatan yang mendukung tujuan pendidikan kita adalah kunci kesuksesan membangun keunggulan bangsa melalui potensi pemudanya. Jika di zaman pra kemerdekaan para pemuda bersatu padu untuk merebut kemerdekaan, kini saatnya kaum muda merebut perhatian dunia dengan prestasi gemilang dan menunjukkan jati diri bangsanya yang sesungguhnya. Tampil sebagai generasi muda yang cerdas, santun, berjiwa besar, memiliki kepribadian tangguh dan beradab.

Meneguhkan Moralitas Sosial
Minimnya pengetahuan tentang keutamaan moralitas sosial menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia kehilangan rasa persaudaraan dan menimbulkan keretakan hubungan antar sesama. Kepentingan individu diposisikan sebagai tolak ukur dalam menggapai kebahagian hidup. Istilah hidup mandiri dimaknai secara sempit dan parsial. Fitrah Manusia sebagai makhluk sosial diberi batasan dengan pengecualian “khusus bagi orang-orang yang memberi keuntungan”. Intensnya komunikasi yang terjalin tergantung dari kadar keuntungan yang diperoleh.
Moral dapat diartikan dengan “menyangkut baik buruknya manusia sebagai manusia”; kemudian moralitas dapat diartikan dengan “keseluruhan norma-norma, nilai-nilai dan sikap-sikap moral seseorang atau masyarakat” (A. Qodri A. Azizy, 2003). Keterangan tersebut memberi pemahaman bahwa seseorang berkewajiban dan bertanggungjawab atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan tidak kepada dirinya saja, tetapi juga terhadap manusia lainnya atau masyarakat luas. Nilai moralitas itu sendiri pada dasarnya harus tertanam kuat dalam hati nurani seseorang, yang kemudian ketika diimplementasikan menjadi kebaikan atau kesalehan sosial.

Rabu, 14 Oktober 2009

*Muhammad Taufiq,

Post a Comment