Ads (728x90)

Mbah Ihsan termangu menatap tamu dihadapannya. Seorang pria dekil dengan wajah yang memancarkan raut kepayahan. Matanya nanar menampakkan kesedihan yang terpendam. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ia mengaku bernama Herba. Nama yang terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Tempat tinggalnya pun tak jelas. Ia hanya menyebutkan nama salah satu kabupaten di Yogyakarta.
Sebagai tokoh agama sekaligus pengasuh pondok pesantren, tentu Mbah Ihsan telah terbiasa menerima tamu. Baik itu wali santri, masyarakat sekitar yang sekedar minta didoakan agar rezekinya lancar, sampai para pejabat yang ingin memberi sumbangan. Semua disambut dan diterima penuh penghormatan. Bahkan tidak sedikit tamu yang dipersilakan menginap karena datang dari luar kota.
Berbeda dengan tamu yang lainnya. Tamu Mbah Ihsan kali ini sangat antusias untuk berdialog membahas malaikat Izrail. Ia mengutarakan beberapa pertanyaan mengenai malaikat pencabut nyawa ini. Apakah malaikat Izrail akan datang tiba-tiba tanpa memberi tanda terlebih dahulu ketika seseorang dinyatakan telah habis waktunya di dunia?. Bukankah kita sebagai manusia juga berhak menjemputnya!.
Pertanyaan-pertanyaan itu menyentak dasar keimanan Mbah Ihsan. Pikiran dan hatinya bergemuruh tak karuan. Matanya menerawang jauh ke alam bawah sadar. Hampir saja lisannya mengucapkan ‘benar juga’. Tapi beruntung ia masih mampu mengendalikan diri dan mengalihkan perhatian tamunya pada dua gelas teh manis yang tersedia di atas meja.
“Silakan diminum dulu tehnya!”
“Wah, ya… ya. Terima kasih Mbah Kyai” sahut Herba.
Disela-sela menikmati teh buatan istrinya, tanpa sengaja Mbah Ihsan meraba rambutnya yang memutih. Ia jadi teringat akan kisah malaikat Izrail yang mengunjungi seorang nabi.
“Bagaimana keadaanmu saat ini?” sapa malaikat Izrail.
“Keadaanku baik-baik saja. Apakah kedatanganmu ini sekedar berkunjung atau melaksanakan tugas untuk mencabut nyawaku?”
“Aku hanya ingin berkunjung” jawab malaikat Izrail, singkat.
“Syukurlah. Tetapi nanti kalau telah tiba waktuku, tolong aku diberi kabar terlebih dahulu”.
“Tentu akan kukabari sesuai permintaanmu. Dan bahkan aku juga akan mengirim tiga utusan untuk menemuimu”
Setelah sekian lama, akhirnya tiba masa dimana sang malaikat datang untuk mencabut nyawanya.
“Bagaimana kabarmu saat ini?”
“Keadaanku baik-baik saja. Apakah kedatanganmu ini sekedar berkunjung atau melaksanakan tugas untuk mencabut nyawaku?” jawaban nabi sama seperti pertemuannya yang dulu.
“Aku datang untuk menjemputmu”
“Mengapa kedatanganmu tiba-tiba. Bukankah engkau telah berjanji untuk memberiku kabar sebelum datang mencabut nyawaku.” tawar nabi.
“Sebenarnya aku telah mengirim utusan kepadamu”.
Mendengar penjelasan itu, nabi terpaku. Selama ini ia merasa tidak pernah didatangi oleh utusan yang dimaksud malaikat Izrail.
“Aku telah mengirim tiga utusan sesuai janjiku. Rambutmu yang memutih setelah hitam lebatnya, lemahnya tenagamu setelah kuatnya, dan doyongnya tubuhmu setelah tegapnya adalah utusanku”.
*****
Hari berikutnya, tamu ‘aneh’ itu datang lagi. Dan tanpa disangka, Mbah Ihsan kembali dibuat terkejut atas permintaan yang disampaikannya.
“Coba mbah, coba lihat dahi saya ini!”
Mbah Ihsan terlihat gamang penuh tanda tanya. Ada apa dengan dahi Herba.
“Lihat baik-baik mbah. Lihat pakai mata batin jenengan mbah!”. Berulangkali Herba meminta Mbah Ihsan untuk menatap dahinya yang kian berkerut.
Kondisi ini membuat Mbah Ihsan semakin tak mengerti. Terlebih, permintaan tamunya untuk menggunakan mata batin yang hakekatnya hanya mampu dimiliki oleh kyai-kyai khos. Sedangkan Mbah Ihsan merasa bahwa dirinya sebatas kyai biasa yang belum sampai pada derajat itu. Sehingga dalam penglihatannya, dahi Herba sama seperti dahinya, dahi istrinya, dahi anak-cucunya, dahi santri-santrinya dan juga dahi orang-orang yang menjadi tamunya. Intinya, tidak ada penampakan apapun pada dahi Herba.
Namun, berbeda dengan Herba. Ia tetap bersikukuh kalau di dahinya terdapat sesuatu.
“Di dahi saya ada tulisan ka..fa..ra..” terbata-bata Herba mengucapkan lafadz kafara yang berarti kafir. Dan detik berikutnya, bulir-bulir air mata mulai menetes di pipinya.
“Saya sungguh menyesal mbah kyai, kenapa dulu ketika dahi saya bertuliskan ‘ahlul jannah’ tidak cepat-cepat menjemput malaikat Izrail agar selamat dari siksa neraka!”
“Astaghfirullah… istighfar Her, istighfar… Manusia boleh-boleh saja berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.” sahut Mbah Ihsan.
Mendengar itu Herba hanya menunduk pasrah. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Pikirannya kalut penuh kegelisahan. Dalam benaknya muncul rasa kedengkian. Mengapa takdir menyapanya begitu kejam?. Padahal dirinya merasa telah sempurna menjalankan rukun Islam. Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji ditunaikan dengan ikhlas. Rukun iman pun diyakini sekuat hati. Lalu, apa ada yang salah atas semua itu. Apa yang menyebabkan perubahan di dahinya dari tulisan ahlul jannah menjadi kafara.
“Apa mbah kyai betul-betul tidak bisa melihat tulisan di dahi saya?”
“Terus terang, saya tidak bisa melihatnya. Namun, alangkah baiknya apabila kita merenungkan hikmah dibalik kejadian ini.” Terang Mbah Ihsan. Mungkin kata-kata yang diucapkannya sedikit dapat mengimbangi lawan bicaranya yang ‘tidak biasa’ ini.
“Besok pagi umat Islam akan mendapat berkah dengan datangnya hari raya Idul ‘Adha. Nanti malam gema takbir kian membahana. Manfaatkanlah momentum ini untuk memperbaiki diri dan jauhkanlah segala prasangka buruk yang menodai hati. Lafadz apapun yang tertera di dahimu janganlah dijadikan sebagai bekal untuk menatap masa depan. Kembalilah pada Sang Pencipta.”
Herba merasakan hawa sejuk yang menembus relung jiwanya. Samar-samar terdengar suara adzan dari musholla pesantren. Tak terasa waktu Ashar telah tiba.
*****
Seorang pria paruh baya lari tergopoh-gopoh menuju kediaman Mbah Ihsan. Usai mengucapkan salam, Mbah Ihsan lantas mempersilakan tamunya duduk sembari bertanya tentang keperluan penting apa yang hendak diutarakan.
“Sebelumnya, saya mohon maaf mbah kyai atas kedatangan yang tergesa-gesa. Begini, di kampung saya baru saja terjadi peristiwa yang mencengangkan seluruh warga. Ada seorang pria berpakaian kumuh datang ke lokasi penyembelihan hewan kurban. Sambil berteriak, pria itu mengacung-acungkan golok yang direbutnya dari salah satu warga. Demi keamanan, orang-orang yang berada disekitarnya berusaha menghindar. Mereka takut kalau ternyata orang tersebut tidak waras dan mengayunkan golok semaunya. Lalu, daripada jatuh korban, akhirnya kami memiliki inisiatif untuk melumpuhkannya dengan senapan angin. Tapi…”
“Tapi apa? tanya Mbah Ihsan penasaran.
“Tapi kami sungguh menyesal. Pria itu sama sekali tidak melukai warga. Sebaliknya, justru golok yang dia pegang disabetkan ke lehernya sendiri.”
“Masya Allah… mengapa bisa sampai seperti itu”
“Saya sendiri juga tidak tahu pasti. Yang jelas, sebelum menggorok lehernya, dia terus meneriakkan nama Ismail yang katanya tertera di dahinya. Dan yang membuat kami semakin penasaran adalah nama Mbah Ihsan yang disebutnya menjelang ajal.”
Mendengar cerita ini, tiba-tiba Mbah Ihsan merasakan jantungnya berdetak kencang. Seketika matanya menangkap bayangan merah yang berkelebat.
“Ayo, segera antarkan saya kesana” pinta Mbah Ihsan.
Sampai di lokasi kejadian, bergegas Mbah Ihsan mendekati sosok mayat yang sangat dikenalnya, Herba. Rupanya ia telah pergi menjemput malaikat Izrail. Meski seluruh tubuhnya tertutupi oleh darah yang mulai mengering, Mbah Ihsan masih dapat melihat dahinya yang berkerut dan bertuliskan…

Bantul, 22.34 WIB. 10 November 2009

Muhammad Taufiq,

Post a Comment