Ads (728x90)

Kabut hitam begitu cepat memeluk atap bumi. Pertarungan antara hitam dan putih semakin sengit. Rona panas menampar jagat raya. Panas..., dan makin panas. Mengomando makhluk bumi untuk mengibaskan kipas, mencari secuil udara bergerak.
Pertarungan masih berlangsung. Serdadu hitam kian menguasai arena. Membawa bendera kerajaan mendung untuk bertahta di singgasana langit. Memaksa pasukan awan putih terhempas di iringi tepukan sorak sorai Sang Petir. Lengkap sudah!. Mendung kian meraja. Petir dan kilat menjadi patih dan angin diangkat sebagai ajudan. Dunia pun menjadi gelap gulita. Menyeramkan!.
Sementara itu...
Bumi yang sudah berbau basah serta merta menghembuskan hawa kantuk ke seantero Pondok Pesantren An Nur. Seluruh santri terlelap dalam tidur siangnya.
“Shodaqollahul ‘adzim...”
Kuputuskan untuk menyudahi nderes kali ini. Rupanya, aroma kantuk begitu cepat merambat, memenuhi tiap ruang di aula lantai tiga, tempat dimana aku nderes. Dan merupakan keputusan yang tepat bila aku ingin tidur siang ini. Tapi, eit...tunggu dulu!. Ternyata, surat itu datang lagi. Tidak ada perubahan dalam bentuknya. Masih menggunakan kertas HVS merah dan pita yang berwarna merah pula. Sama seperti bulan lalu. Surat tanpa amplop itu nangkring pada lubang sempit di atas pintu penghubung aula putra dan putri.
“Bulan kemarin hari sabtu, minggu kedua. Bulan ini juga sabtu dan merupakan minggu kedua.” Pikirku, coba menganalisis latar belakang si penulis. Lalu, aku pun bergegas mengambil kertas merah itu dan membawanya tepat dibawah kipas angin. Mendung tebal memang tak hanya menyebabkan kantuk, pun juga virus gerah yang mulai membahana. Perlahan kubuka ikatan pita merahnya. Kuamati dan kucoba masuk dalam barisan puisi berirama nestapa di depan mataku.
Daun luruh di senja hari
tersedu, menggigil di pangkuan
akar bumi.
Malam terlalu angkuh tuk di kelabuhi.
Aku kalah, payah dan lemah.
Pagi tak dapat ku jumpai
hanya bisa kunanti.
Bersama peluh tanpa arti.
“Herek...waitcya...apaan nich!!!.”
“Tapi, ck...ck...ck...pure, kasihan sekali”. Gumamku lirih. Spontan kukerutkan alis, ada yang tidak kupahami dari puisi itu. Otakku terus berputar, dan...
“O..., si penulis lagi putus cinta kali ya..., atau cintanya nggak kesampaian!.”
“Ah, entahlah, bodo amat, amat aja nggak bodo!.” Virus cuek muncul dan sesaat sebelum aku beranjak, tiba-tiba...cling!.
“Atau jangan-jangan dia habis di sidang seksi keamanan gara-gara pacaran di bawah pohon kala hari senja. Terus...ketahuan sama “polisi” pondok. Waduh, kasihan juga.”
Begitulah, otak dan hatiku berpikir keras. Jiwa-jiwa detektif dan puitis dalam darahku melaju begitu saja. Menerobos pekatnya mendung dan panasnya hawa pancaroba.
“Kira-kira, santri putri atau putra ya...!?”. Aku masih bertanya-tanya, mencari kepastian.
“Tapi, kalau dilihat dari tulisannya, mustahil kalau anak putri. Wong acak-acakan gitu. Kayak habis perang dari negeri antah berantah.”
“Tuink...!!!.”
Ingatanku melayang pada kertas merah bulan lalu. Kalimat lengkapnya sih lupa. Tapi, isinya nggak jauh-jauh dari rasa gembira yang membuncah karena menemukan bidadari di pagi hari.
“Cklik...!!!.’
Seperti ada yang menyambungkan antara puisi pertama dan puisi yang kedua. Aku lantas tersenyum lebar, serta merta mendongak ke atas menghadap kipas angin.
“Yup..., aku tahu maruhu, paham maruham!. Pasti nih orang santri putra yang naksir cewek. Terus, pas lagi pacaran, ketahuan deh sama security alias kang Sofi Cs. Walhasil, masuk deh ke ruang sidang.”
“Huh, tragis banget nasibnya. Makane nek pacaran ki le’ ngati-ati. Lebih baiknya lagi, nggak usah pacaran ding!.”
Ya...begitulah analisis kedetektifanku. Amatir, biarin!. Wong salah pun, emang gue pikirin!. Tapi siapa ya..., kok pondok putri nggak geger bar blas. Ah, sudahlah, toh itu urusan orang lain. Ngapain ikut campur!. Orangnya siapa juga nggak jelas. Mungkin ia melemparkan kerisauan hatinya dengan mengirim puisi di atas pintu aula ini. Semoga dia bisa lebih berhati-hati. Kataku dalam hati, sembari berdiri hendak meninggalkan aula dan tidur di kamar.
Belum sempat keluar dari aula, tiba-tiba terdengar ketukan dari seberang pintu. Sejurus kemudian, dua lembar kertas berwarna merah dan biru muncul hampir bersamaan. Aku terkesiap melihat apa yang terjadi barusan. Berarti, ada yang mendengar analisisku dari balik dinding. Pasti dia punya ilmu telinga super. Lha wong dibatasi tembok tebal, pintu juga tertutup rapat kok masih bisa mendengar. Dan juga, kemungkinan dia adalah si penulis yang baru kena takzir itu. Hi...hi...hi..., jadi geli sendiri. Kok bisa ya...!. siapa sih kang, dirimu itu...?.
Detik selanjutnya, tanganku menyambar dua kertas tadi. Kuputuskan untuk membaca yang merah dulu. Kebetulan di bagian atasnya tertulis angka 1 dan yang warna biru angka 2. Kubuka perlahan, dan...puisi lagi!. Namun, kali ini ditulis dengan tinta Hi-Teck.
Air dan api bersatu
Ciptakan asap tebal yang membumbung.
Mentari menyapa hangat pagi tadi.
Api telah padam
Semi telah datang.
Daun yang luruh
terganti pucuk daun baru.
Bersama bunga-bunga semangat baru
Dalam tangkai hati.
Air, mentari dan semi.
Thank’s you...
“Ha..., apa maksudnya.” Kesanku setelah usai membaca.
“Tapi baguslah, kalau kang itu sudah menemukan semangatnya kembali. Berarti dia menjalani takziran dengan ikhlas dan penuh kesadaran.”
Tak berapa lama, HVS biru kubuka. Sebuah surat pendek. Daripada penasaran, langsung saja kubaca. Kata demi kata yang terangkai sedikit rapi.
Syukron katsir, ukhti dah mau baca dan memahami puisi saya. Terus terang saya senang sekali. Memang benar, saya adalah kang santri putra disini. Dan analisis panjenengan tentang kesukaan saya melampiaskan dengan puisi adalah benar adanya.
Sedikit meluruskan...
Sebenarnya, saya tidak pacaran, dan apalagi kemudian di sidang, terlebih di takzir. Hanya saja, dari kemarin kalau saya ikut deresan selalu didukani (ya...khotimin, sampai Gus Muslim). Alasannya, karena ngajine kurang tartil dan kurang fashih. Setelah melalui proses kurang lebih satu bulan, alhamdulillah sudah bisa tartil. Nah, ternyata kuncinya satu..., yakni SABAR!!!.
“Hayo...ukhti ngajine dah tartil belum???.”
Salam tererenk kyu

Kang putra

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa ternganga, ha...!!!. Duh malunya, alias isin marusin...

Lina Maemunah

Al Latifiyah ~ Klaten.

Post a Comment