Ads (728x90)

Tulisan itu terpajang di atas kaca ukuran sebadan di kamar Al Hidayah tiga (H.3). Tulisan yang mengakibatkan kekacauan. Hari ini ribut banget. Mau berangkat ke kampus, serasa pasar Bringharjo pindah ke kamar H.3. Ni kan, hari terakhir ujian semester gasal. Abiz itu, libur panjang dech...Semangat bro!!!. Saking semangatnya, bangun kuliahnya jadi kesorean.
“Rin, cepetan!, dah jam dua nih...!” Seru Fida yang sudah siap sejak tadi. Dia memang tipe gadis yang kurang betah dengan kondisi kamar yang terlalu ramai.
“Iya, bentar napa?!” Sahut Rina sambil menoleh sebentar ke arah Fida.
“Aduh..., minyak wangiku mana yach?” Rina sibuk membongkar kotak minyak wangi “bersama”.
“Ah, akhirnya ketemu juga!” Gumam Rina.
“Eh, An... kartu ujianku mana yach?.” Tanya Tiya pada Ana dengan tergesa-gesa.

“Aduh, ya... mana aku tahu...!” Jawab Ana sembari membenahi kerudung sutra birunya.

“Kemarin kan kamu yang bawa sendiri.” Lanjutnya.
“Iya...ya. Aduh... mana sich?.” Tiya beranjak meninggalkan Ana. Lalu sibuk membuka-buka “file”-nya. Kebiasaan buruk, naruh tidak pada tempatnya.
“Lun, tungguin aku yach!.” Seru Ida ke Luna. Dia terlihat sedang memoles kakinya dengan hand and body citra bengkoangnya. Hemmm..., wangi.
“Iya...!” Jawab Luna sambil bedakan di depan cermin.
“Buruan bro..., dah jam dua pas nich...!” Teriak Ama dari luar kamar.
“Iya..., duluan aja!. Masih ada temen kok!.” Jawab Ina, Luna dan Ida hampir bersamaan. 
Ama, Fida, Ana dan Tiya berangkat ke kampus dengan sedikit berlari. Hanya sedikit, ntar kalo banyak takut berkeringat!!!. Nggak, dech...??!!.
Akhirnya, sampai juga di kelas. Pak dosen sudah stand bay di “kursi panas”nya. Ujian telah di mulai sejak 10 menit yang lalu. Dalam keadaan masih ngos-ngosan, mereka berempat mengambil lembaran kertas soal sekaligus lembar jawaban. Lalu duduk di bangku masing-masing. Ambil nafas sebentar, sekedar menenangkan getaran nadi yang tak karuan. Setelah itu, baru dech bollpointnya digerakkan.
Yang lebih parah adalah Ina, Luna dan Ida. Mereka baru memasuki ruangan 5 menit setelah rombongan Ama tadi. Payah!. Emang jamannya wanita “steril” sich!!!. Jadinya, tanpa kuman baru mau jalan. Maksud nggak??.
*****
Ujian usai. Hanya satu jam kok!.
“Huh...” Ida mengekspresikan kelegaannya dengan over acting.
“Ha Be eS, tau!!” Sambut Rina yang berdiri tepat di depan Ida.
“Kamus eS eM eS-nya jalan lagi ni...” Timpal Ana.
“Apaan sich Rin?” Tanya Fida sembari melotot ke arah Rina.
“Kemarin ce Pe Ka De Ha. Terus, sekarang Ha Be eS.” Lanjut Fida yang makin penasaran.
“Hembusan Bau Sangit, he he...!!” Jawab Rina sambil nyengir. Yang lain tertawa serempak.
“Udah dech, Rin. Kamu tuch pindah ke planet IM3 aja!. Biar ada yang nyambung...” Ana berlagak memberi nasihat. Basi banget tau?!. 
Itulah the gank “Rame Community”. Dimanapun berada, selalu bikin gempar. Seperti saat ini, untuk merayakan hari kebebasan –setelah satu minggu terkurung dalam kubangan makalah yang memusingkan- mereka duduk-duduk di depan kelas lantai dua. Bercanda ria.
“Eh...eh..., lihat tuch!. Siapa yang datang?” Tunjuk Tiya pada seorang cowok yang tak asing lagi bagi Rame Community. Dia berjalan ke arah kantor di lantai pertama. Mata Tiya melirik ke arah Rina.
“Cieeh...h!” Seru Rame Community bersamaan sambil melirik Rina. Rina jadi keki. Untung aja kulit wajah Rina nggak putih-putih amat, jadinya nggak kelihatan merona. Meski begitu, tubuhnya terasa panas dingin. Jantungnya berdetak, berdegup kencang, dan senyumnya melebar. Yach, begitulah ekspresi Rina saat melihat sang idolanya...
“Udah jam segini, balik yuk!” Ajak Fida yang baru saja melototin jam tangannya.
“Buruan, ntar ditakzir lagi...”. semuanya mengangguk, tanda setuju.
“O ya, ntar malem jadi lho...” Sahut Ina, mengingatkan Rame community.
“Ok’ Bos...”
Ya iya iya lah...Ya iya iya dong. Kalo pulang sekolah langsung baling ke pondong!!.
*****
Di kamar H.3, tepukul 21.00 WIB.
Inilah saatnya. Seluruh komunitas masuk ke kamar... Jendela ditutup beserta kordennya. Pintu dikunci dari dalam. Ruangan telah ditata rapi seperti biasanya. Tempat tidur tetap, tidak berpindah posisi. Abisnya, kalo nggak gitu pasti nggak bakalan cukup!!!. Sebab, ada PeCel Lele (Persatuan Cewek Lemu-lemu) juga!, he he...
“Ok’ kita mulai sekarang.” Ana berlagak seperti komandan pasukan baris-berbaris. Semuanya serentak menganggukkan kepala.
“Jangan terlalu rame yach..., ntar “dihitung” lagi ma Bu Lurah!.” Dihitung merupakan istilah yang diciptakan oleh Rame Community ketika menyebut kebiasaan Bu Lurah untuk mengingatkan mereka jika guyon terlalu berlebihan. Hal itu sudah dialami Rame Community sebanyak tiga kali. Satu, ketika mereka bercerita tentang film-film masa kecilnya, seperti Doraemon, Sailormoon, Power Rangers, Batman dan lain sebagainya. Kedua, saat mereka bermain tebak kata. Ketiga atau yang terakhir, sewaktu mereka menirukan gaya jalannya para artis lokal pesantren. 
“Aku merasa lebih baik daripada saat pacaran dulu. Walaupun setiap tanggal empat belas seperti sekarang ini aku selalu mendapat kiriman coklat, tapi aku lebih merasakan kehangatan dalam sebuah persahabatan ketika bersama kalian...”. ucap Ida, mengawali acara Rame Community dengan mengutarakan kesan dan pesannya.
Selanjutnya, satu per satu Rame Community bergantian menyatakan isi hati mereka. Tentang cinta. Isinya, kompleks bangets...!. Ada Ida yang baru putus sama pacarnya, namun bisa menyikapinya dengan dewasa. “Malah banyak waktu untuk nderes” katanya, sambil tertawa kecil. “Ntar aja, kalo dah khatam cari pacar yang abadi...”. Lanjutnya. Ama beda lagi, dia hanya mampu berdo’a agar dapat jodoh yang terbaik. Yach, mau gimana lagi?, di keluarga ndalemnya, perjodohan sudah jadi tradisi!!??. Kalau Fida, tetap pada prinsipnya. Yang penting, terus mencintai walau tak dihiraukannya. Dia adalah penganut rezim Kahlil Gibran, “Jika cinta menghampirimu, ikutilah kemana ia pergi. Dan bila sayapnya melukaimu, teruslah berjalan, ikutilah kemana ia berjalan. Nikmatilah cintamu. Perjuangkanlah kekuatan cintamu, apapun hasilnya”. Istilah kerennya, Ce De Ha (Cinta Dalam Hati).
Yang seru tuch Ina. Dia tetap dapat kiriman coklat plus bingkisan dari sang “kekasih gelap”nya... ups, bukannya kekasih (selingkuhan) lho!. Disebut kekasih gelap, tak lain karena si doi-nya berkulit agak gelap!!. Luna??. Dia tuch DDM banget!, Diem-Diem Mesra!. Cintanya hanya diungkapkan lewat do’a. Hebat kan?. Do’anya seperti ini: “Ya Allah..., Jika dia adalah jodohku, dekatkanlah dia denganku. Namun, jika tidak...jangan Engkau biarkan dia bersama orang lain...!. Maksudnya apa, coba? Nggak pake’ maksud, kan?.
Tiya, yach... kalo yang ini sich nyantai-nyantai aja... Lha wong calonnya aja dah jelas!. Lebaran ‘Idul Adha kemarin, dia baru aja tunangan. Kalau Rina...”Cinta tanpa hubungan memang membingungkan”, katanya. “Tapi, juga menyenangkan”, lanjutnya. “Bingung, karena malu kalau mau bilang kangen, dan lain sebagainya. Senang, karena tak ada jaring yang mengekangnya. Alias, nggak ada alasan untuk mencumburuinya maupun dicemburui...he he.” Terangnya.
Terakhir, Ana. Dia berkeyakinan jika ada sebuah jalinan rasa saling percaya dalam ikatan cinta, maka akan berbuah surga. Jauh banget, kan??!.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih enam puluh lima menit, dua puluh empat detik. Rame Community telah terlelap dalam mimpi indahnya, setelah sebelumnya mereka menyimpulkan, bahwa “Cinta itu merupakan energi. Ia bisa menguatkan, namun bisa pula melemahkan”.
*****
Pagi yang cerah untuk jiwa yang merekah. Bagi Rame Community, hari baru bisa dikatakan “cerah” bila pada hari itu mereka mendapatkan empat tanda tangan. Satu dan dua dari Mbah Kyai, yakni deresan dan bimbingan. Tiga, ngeloh Bu Farchah. Dan empat, mudarosah Bu Zum dan Bu Lilik Nur Kholidah. Nggaya banget, kan?!!. Yach, inilah prinsip kebersamaan Rame Community. Bersama dalam menggapai cita dan cinta.
Yang perlu digaris bawahi adalah “Yang penting dapat tanda tangan”. Entah itu bimbingan yang cuma ikut-ikutan, deresan sambil angguk-anggukan, ngeloh dibadali partneran, atau mudarosah nunggu bel peringatan... yang paling utama kan barokahnya...!.
Pukul 09.00 WIB.
Setelah usai kegiatan mengaji, Rame Community kembali memenuhi kamar H.3. dengan penuh semangat, mukena dilepas, kemudian dilipat. “Satu, dua, tiga... serbu!!!” Ida memberi komando.
Rame Community menuju almari masing-masing. Mengobrak-abrik tatanan pakaian mereka demi sebuah harta karun yang sebenarnya lebih tepat disebut “bingkisan”. Tiba-tiba...
“Panggilan..., bagi nama-nama yang kami sebut, dimohon untuk segera ke ruangan pengurus.” Suara kak Ita, koordinator seksi keamanan. “Ama, Ana, Ina, Luna, Fida, Ida dan Tiya”. Rame Community diam tak mampu berkata-kata. Saling memandang dan mengernyitkan kening masing-masing.
*****
Kantor keamanan...
“Kalian tahu, untuk apa kami memanggil kalian kesini?”. Tanya kak Ita mantap. Rame Community menggelengkan kepala, lalu kembali ke posisi semula, menunduk.
“Tadi pagi, kami melakukan razia ke seluruh kamar.” Sambung kak Ita. Sejenak beliau terdiam, kemudian melanjutkan ceramahnya.
“Apakah kalian belum membaca amandemen qonun pesantren kita?. Pasal tiga, nomor empat, tahun dua ribu sembilan?.” Suara kak Ita pelan, tapi begitu nyaring terdengar jelas di telinga. Rame Community masih belum bisa menangkap arah pembicaraan kali ini.
“Kami menemukan surat-surat ini di dalam almari kalian semua!!!” Bentak kak Ita. Rame Community tercekat...
“Kalian harus menjalani hukuman sesuai dengan apa yang telah menjadi ketetapan di Pondok ini...”
“Gubrak...!!!” Serentak Rame Community tercengang. Rame Community saling memandang, kemudian tertawa bersama. Mereka teringat surat-surat cinta yang sengaja ditulis semesra mungkin, lalu ditaruh ke dalam almari secara acak. Disertai pula dengan bingkisan coklat. Sesuatu yang mereka anggap sebagai harta karun tadi. Sebagai lambang sebuah persahabatan yang begitu indah, melebihi segalanya...
“Huuh..., untung bukan surat dari pacarku beneran yang sekarang lagi ada di Aceh. Tapi, kayaknya nggak mungkin banget dech!!. Sebab, sudah aku simpan rapi di tempat yang paling aman dan nyaman...he he. Beruntung pacarku jauh disana. Jadi, nggak bakal kena takzir dech.” Pikir Ina dalam tawanya.
Sedangkan para seksi keamanan merasa jengkel dengan Rame Community yang tertawa tak memandang tempatnya. Mereka hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku Rame Community yang semakin tak bisa dimengerti.



*******
Selamat Ulang Tahun An Nur-ku...
Bersamamu kumeniti hari
dan inginku s’lalu dapat menjunjung namamu...
Semoga Allah selalu
memberi cahaya padamu
Sehingga, kau pun takkan pernah redup...
Ku pasti kan merindukanmu.
Kala mata tak bisa lagi menerawang
Kala mulut tak lagi bisa berucap.
Hanya hati yang berinteraksi
Karena segala sesuatu ada disana
An Nur-ku...
Tegaplah selalu...


Ririn Maftuhatul Muna
Al Hidayah ~ Kediri.

Post a Comment