Ads (728x90)

Add caption
“Kenapa penyesalan harus ada?!”. Tuturku dengan suara sendu.
“Apa Na harus menjawab, pertanyaan yang seharusnya jawaban itu sudah Fika ketahui...?. Sudah berulang kali Fi...Na katakan padamu, jangan pernah menyesal dengan langkah yang pernah Fika ambil.”
“Harusnya Fika tetap disana, andai dari awal Fika tau, Na...hicks...hicks.” Aku tak kuat lagi bicara. Kristal bening yang tak ku ingin, keluar tanpa kuminta.
“Na yakinlah dibalik semua ini, Dia banyak menyimpan rahasia berwujud Hikmah untuk kita semua. He...he.. jawabnya bijak.
Reflek HP ku matikan, saat ada seorang pria kurus dengan senyum beliau yang khas masuk ke kelas XII IPS MA AL Ma’had An Nur.
Aku mengetik SMS:
“KAPAN2, Di TRSN, THKS BWNGT WAT HR NI. PINTAQ...HADIRLAH SAAT Q RAPUH, TDK HNYA SAAT Q TANGGUH~YACH?!.”
Aku amati sekali lagi, setelah benar-benar yakin, kupencet send. Beberapa menit kemudian, Replay: 1 pesan muncul di layar HP yang kupegang.
“Allah menguji ke ikhlasan dalam kesendirian,
Allah memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan,
Allah melatih ketegaran dalam kesulitan.”
SEMANGAT SHOBAT!!
Nauza Arytaro adalah sahabatku (kerenkan namanya?), he he he... Kita memang jarang bertemu. Komunikasi by SMS, writing voice kadang letter. Aku temukan sahabatku setelah raga berjauhan. She is so special for me, (ciele...).
“Fik, sudah ada gurunya tuch. Pinjaman HP harap di kembalikan, he he...”. Pinta Vy yang duduk di belakang bangkuku.
“Domo arigati Vy-san, Gomen...lama, whe he... besok lagi ya...!” jawabku sambil nyodorin HP-nya.
“Hai, sou desu san”. Timpalnya tak kalah pakai bahasa Jepang. Biasanya aku pinjam HP pada Vyla, saat benar-benar perlu coz mau ke wartel mahal sich, he he...
Vyla, salah satu temen pondok yang kriminal abiz. Motto hidupnya : “Adanya peraturan ya untuk di langgar” (ada-ada aja tu anak).
Di depan kelas sudah berdiri Bapak Suryanto. Beliau mengampu pelajaran Matematika. Tau ga’?!, beliau tu sabar banget ngajarin anak didiknya, padahal nakalnya siswa An Nur wes ora ketulungan, dalam hal positif he he... afwan jiddan, aku cuman ngepasne’ he...
“Siang-siang begini enaknya tidur nich. Bikin puusing aza kalu makan Matematika”. Batinku.
Ku pandangi suasana di kelas XII IPS. Sama sekali nggak ada wajah yang ngeh wat melahap Matematika, terkecuali untuk yang maniak bahkan bersemangat dengan pelajaran yang wat ku mematikan itu. Maaf ya pak..., kalau diriku memilih untuk tidur, he he... Aku mulai menelungkupkan wajah di atas meja sambil menoleh ke kiri, ku pandangi wajah cantik di sebelahku.
“Kenapa Fik, lesu banget, nggak semangat gitu sich”. Tegurnya.
“Biasa, lagi “gerah polo”. Ntar kalau sudah bel pulang, bangunin yach.”
“Kalau aku juga ga’ tidur yach, whe he...” jawab Tia.
Aku yakin, pasti dia akan memperhatikan pelajaran ini sampai akhir. Sebab, aku paham jika Tia memang suka pada pelajaran matematika.
“Aww..., sakit tau.” Jeritku tertahan.
“Ya maaf, bel pulang sudah 2 menit yang lalu. Habisnya, kamu susah banget sich di bangunin. Terpaksa dech harus di cubit” elaknya.
Sejenak aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Masih ada sebagian yang belum pulang. Rasanya baru terlelap beberapa menit kok ternyata 2 jam sudah berlalu. Heran nich pada diriku, salam guru kok nggak denger, he he...
“Wes kumpul tho nyawane?!”. Canda Tia sembari menggerakkan ke lima jarinya di depan wajahku.
“Thank’s yach”. Kataku yang diberi jawaban senyum manisnya.
Aku mulai mengemasi barang-barang dan selaranya tidak ada yang tertinggal, lalu beranjak dari duduk dan berjalan keluar kelas.
Happy Tias adalah teman sebangku ku. Orangnya rame, nggak ada Tia gak rame, he he...(Sampoerna hijau x, enaknya rame-rame).
“Fik, mampir dulu yuk, beli makan siang”. Kata Rose yang tak kusadari kedatangannya ternyata telah mengiringi langkahku. Rosela adalah teman kamarku, anaknya lucu bin imut-imut. Aku menggangguk, tanda setuju menanggapi ajakan Rose.
*****
Pukul 14.00 tepat, aku sudah di pondok An Nur tercinta. Aku letakkan barang-barangku di tempatnya. Lalu melangkah ke kamar mandi guna mengambil air wudhu, sholat Dhuhur terus tidur. Mataku terpejam hingga butiran air mataku mengalir deras. Terpejam hingga sang mimpi menenggelamkanku dalam tisdurku.
1 tahun yang lalu aku adalah eorang santri baru di An Nur yang sekarang menjadi tempatku berjihad fisabilillah (chielah...) di pondok ku yang dulu, Jannatul Ma’wa di daerah Semarang Jawa Tengah (enek po?!, tahu dech he he...). aku merasa sendiri, entah karena memang aku sendiri atau terbawa perasaan. Maksiat di ma’had memang itu... masalah teman. Terkadang sikap mereka membuatku bigung. Ego masing-masing yang tidak mau kalah... atau ngalah dengan keterpaksaan. Terlalu egoiskah aku?, jika aku ingin ada seseorang yang mampu membantuku berdiri dikala aku rapuh?!. Tapi saat ini, aku belum bisa memposisikan diri dengan benar. Perasaan ku mengalahkan logikaku, hingga keputusan untuk pindah pondok merupakan langkah yang kupilih. Aku benci pada diriku sendiri, kenapa tidak aku pikirkan matang-matang sebelum mengambil langkah yang pasti. Menimbang sesuatu yang terjadi, walau mustahil aku tahu apa yang akan terjadi pada diri ku lima menit yang akan datang...
Tanpa ku sadari dibalik kepergianku ada beberapa wajah yang menitikkan air mata. Salah satunya Nauza.
“kenapa aku tak bisa membaca mata yang menyayangi ku. Kenapa aku harus punya perasaan “bahwa aku sendiri”. Kenapa aku tak berusaha mencari kesibukan untuk menghilangkan perasaan yang tidak penting... Kenapa aku tak berusaha untuk lebih bisa bertaqarub kepada-Nya...”
“Jangan disesali, cobalah untuk memperbaiki diri Fik!.” Itulah kata Nauza. Manusia yang baik bukanlah manusia tanpa cacat dan cela, tapi manusia yang mau memperbaiki diri.
“Na..., U’r my best friend, uhibbuki fillah”. Kataku mengenangnya.
Aku kangen dengan teman-teman di Jannatul Ma’wa. Aku selalu memohon pada-Nya, agar aku dipertemukan, walau hanya sesaat. Meski hanya dalam mimpi...Tapi, pintaku belum pernah terpenuhi. Aku tidak boleh putus asa. Aku yakin suatu saat Allah akan mengabulkan do’a ku ini. Aku sangat ingin mengatakan pada mereka : “I’m so regreat and ask they apology, just that...”
Sayup-sayup terdengar suara adzan. Mau tak mau, aku harus beranjak bangun untuk ikut jama’ah sholat Ashar.
“Fik, mau ngantri mandi nggak nich?”. Teriak Rose dari depan kamar.
“Aku mandi habis sholat aza dech. Mau sekalian nyuci. Ntar kalau mau berangkat Diniyah tungguin yach!”. Jawabku.
“It’s OK’!?”. Teriaknya lagi.
Usai sholat jama’ah bersama Bu Nyai, aku siap-siap mandi plus nyuci. Setelah rapi, lalu kukenakan baju kebangsaan pondok An Nur, kerudung putih dan baju putih, he he... aku berangkat Diniyah.
Aku mendapat banyak pelajaran di An Nur. Semenjak disini, aku mulai berpikir tentang arti kehidupan, arti persahabatan, yang sebelumnya aku tak pernah memikirkannya.
Sungai kehidupan... tidak hanya mengalir bersamanya, tapi harus mengarunginya, mengarungi SAMUDRA KEHIDUPAN yang begitu luasnya.
Aku mulai berpikir toex mencintai diriku. Semoga aku bisa menjadi insan yang selalu bersyukur dan tetap nduablek agar tidak cepat puas dengan ilmu yang ku dapat. It’s a motivation, Fik.
Namun, terkadang aku merasa ringkih saat menghadapi masalah, padahal itu “a part of life”. Aku ingin tetap tegar. Aku tidak sendiri, “Come to Allah we will never fail”. It’s life... tak ubahnya karang. Dia mencoba bertahan di tengah gempuran ombak yang akan mengukur seberapa kuatkah karang...
Pukul 17.00 WIB. Diniyah Al Furqon usai. Saatnya persiapan untuk jama’ah sholat Maghrib. Para santri bergegas menuju musholla. Selepas sholat, dilanjutkan dengan mengaji bersama Bu Nyai. Ada juga yang mengikuti bimbingan qur’an yang diampu oleh Mbah Kyai Nawawi. Beliau adalah pengasuh Al Ma’had An Nur yang memiliki semangat qur’an yang tinggi. Sosok yang istiqomahnya tiada tanding. Seseorang yang dapat menyejukkan hati di kala memandang beliau... Namun, saat ini Allah berkehendak lain, Mbah Kyai “gerah”. Walhasil, bimbingan qur’an di ampu oleh putra-putra beliau. Ini merupakan bukti cinta Allah kepada beliau. Semoga Allah mengembalikan kondisi beliau seperti semula. Amin.
“Fik udah ngaji belum?”. Tegur Ima.
“He he... belum, kayaknya antrian dah hampir habis tuch, dhang lek maju!”. Pintaku.
“Dipek yo...?!”. Jawabnya.
“Sok atuch mangga”. Timpalku.
Harus berapa kali sehari, ½ atau 1 tablet?! Biar penyakit lupaku hilang... Sejauh ini, aku nggak berani naik...takut nggak bisa berdiri di bawah. Coz, dalam menghafal Al Qur’an memang harus punya ilmu sabar.
“Yang penting usaha dulu, hasilnya nanti, every thing we got, believe it the best from the gig bos ~ Allah SWT. Must be optimis!! Ok’!?.”
Tak terasa waktu malam telah menjelang. Dear diary... hari ini sangat melelahkan walau tak banyak aktifitas.
Sepercik air yang meleleh
menetes basahi bumi
Akankah jadi kesaksian
di duniaku selanjutnya...!?
Dalam kesendirianku
AQ harus bertanya
tentu saja.
Pertanyaan yang tertuju pada jiwaku sendiri,
Siapa Aku?!.
Alam raya masih menyimpan
seribu, sejuta, bahkan selaksa
misteri tentang aku.
Yang aku tau,
Aku bukanlah dirimu
Aku bukanlah dirinya
Aku bukanlah diri siapa pun
Karena...
AQ adalah AQ.
-Fikayla Ibriza
23.30 PM
In my confution.
Ya Allah...janganlah Engkau membelokkan hatiku, sesudah Engkau memberikan petunjuk kepada ku, dan limpahkan bagiku dari sisi Engkau akan rahmat-Mu...amin.
Finally :
“I ‘LOVE AN NUR FOREVER”
Langkah yang salah tidak untuk di sesali, namun mencoba untuk diperbaiki.
Bantul, 14 Feb’ 09.

Fithrotil Kamilia Abdillah
Al Maghfiroh ~ Salatiga

Post a Comment